Statistik Pengunjung blog AL BAHRAIN 4

Jumat, 18 November 2011

Sejarah Pondok Pesantren Wali Barokah

Pondok Pesantren Wali Barokah didirikan atas gagasan KH Nurhasan Al Ubaidah bin KH Abdul Aziz yang ingin menyiarkan agama Islam secara murni, mukhlis berpedoman kitab suci Al Qur’an dan Al Hadits dengan berlandaskan pada hak dasar kebebasan beragama yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945, maka diperjuangkanlah syiar agama Islam dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai kelanjutan perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, mutlak diperlukan partisipasi dan peran serta dari segenap lapisan masyarakat Indonesia. Memberikan peningkatan kehidupan beragama serta partisipasi pembangunan masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur baik material maupun spiritual dan berakhlakul karimah bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara historis pendirian Pondok Pesantren Wali Barokah ini diawali pada tahun 1950, saat KH Nurhasan Al Ubaidah bertabligh ke wilayah Kabupaten Kediri. Dakwahnya dilakukan di sebuah surau milik Mbah Damah yang pada waktu itu dikenal sebagai orang kaya di Desa Burengan, Kecamatan Pesantren, Kabupaten Kediri. Pada waktu itu diadakan pengajian Al Quran yang diikuti 25 (dua puluh lima) orang.

Berkat kesabaran dan kegigihannya, lambat laun Beliau membeli sebuah rumah di jalan Kenari No. 9 yang lokasinya berdekatan dengan surau Mbah Damah (sekarang dikenal sebagai Jalan Letjend. Suprapto gang I/21 Kediri) yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren di Desa Burengan, Kecamatan Pesantren, Kabupaten Kediri dan Desa Banjaran, Kecamatan Kota, Kabupaten Kediri yang akhirnya menjadi sebuah Pondok Pesantren besar bernama Pondok Pesantren Burengan-Banjaran Kediri.

Pada akhir tahun 1971 dikarenakan kondisi fisik KH Nurhasan Al Ubaidah mulai menurun dan sakit yang berkepanjangan, maka pengelolaan Pondok Burengan-Banjaran Kediri diserahkan kepada Yayasan Lembaga Karyawan Islam (Lemkari) di bawah pimpinan Drs Bachroni Hartanto.

Pada hari Kamis, tanggal 11 Maret 1982 Beliau wafat dan sebagai pengesahannya secara yuridis, pada tanggal 03 Mei 1983 para ahli waris yang diwakili oleh KH. Abdul Dhohir menyerahkan pengelolaan Pondok Pesantren Burengan-Banjaran Kediri kepada pendiri Lemkari Raden Eddy Masiadi, Drs Bachroni Hartanto, Soetojo Wirjo Atmodjo BA, Wijono BA, Drs. Nurhasjim yang dalam nota penyerahannya diwakili oleh Drs Bachroni Hartanto untuk dan atas nama Direktorium Pusat Lemkari, yang saat itu Beliau juga sebagai Ketua Pondok Pesantren Lemkari Burengan-Banjaran Kediri.

Dalam perkembangannya Pondok Pesantren Lemkari mengembangkan sarana dan prasarana diantaranya adalah gedung DMC, Menara Agung dan Gedung Wali Barokah yang dijadikan ruang utama kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya diadopsi sebagai nama Pondok Pesantren Walibarokah.
Artikel Ini Dicari Dengan Keyword:
■mbah ubaidah
■pendiri ponpes ringin agung
■sejarah ldii
■sejarah ldii di indonesia
■sejarah pondok burengan
■sejarah pondok pesantren ringin agung
■www pondok burengan com

Muswil DPW LDII PROV.Kalimantan Timur




Kepala bagian kesehatan mental spiritual biro sosial setprov kaltim H.Syahril (kanan) menyaksikan penyerahan cinderamata dari ketua DPW LDII Kaltim masa bakti 2006-2011 Dr.H.krishna P.candra kepada prof KH.umar shihab dari MUI PUSAT

LDII Kurang Gaul

Kediri- Diakui atau tidak Indonesia merupakan negara majamuk. Kemajemukan yang ada di masyarakat Indonesia ini bukan hanya sebatas fakta, namun sebuah keharusan yang mesti terjadi. Mengapa demikian? Karena keberagaman dan kemajemukan adalah rahmat yang telah digariskan Allah. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari pemberian Ilahi. Oleh karena perbedaan merupakan kodrat manusia, maka janganlah keberagaman dan kemajemukan ini menjadi pemecah bangsa, justru hendaknya dijadikan sebagai kemaslahatan bangsa.

Akan tetapi fakta yang terjadi di masyarakat tidaklah seperti yang diharapkan. Perbedaan, kemajemukan ataupun keberagaman acapkali menimbulkan pertentangan, pertikaian bahkan permusuhan yang tidak sedikit menimbulkan korban. Perlu adanya saluran komunikasi untuk saling memahami antar sesama agar tidak terjadi perpecahan diantara umat. “Mengapa LDII terstigma jelek di masyarakat? Ya.. karena LDII kurang gaul, kurang sitarurrahim atau kurang srawung dengan yang lain”, kata Prof. KH. Syafii Mufid Wakil Ketua Komisi Pengkajian MUI Pusat dalam sambutannya kepada pengurus dan asatidz di Pondok Pesantren Walibarokah Selasa (9/8).

Kehadiran Prof. KH. Syafii Mufid ke Pondok Pesantren Walibarokah ini dalam rangka silaturrahim melihat secara dekat aktifitas Pondok Pesantren Walibarokah Burengan Banjaran Kediri. “Sebenarnya sudah lama saya ingin bersilaturrahim ke Pondok Burengan ini, dan juga ke Pondok Pesantren Gading Mangu Perak Jombang. Namun baru kali ini, di bulan Ramadan yang penuh berkah ini baru bisa terlaksana”, lanjut Profesor kelahiran Demak ini.

Sementara itu Drs. Sunarto, MSi, Ketua Pondok Pesantren Walibarokah menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Prof. KH. Syafii Mufid atas kunjungannya ke Pondok Pesantren Walibarokah. “Kami berharap dengan kehadiran Profesor KH. Syafii Mufid ini akan menjadi baik untuk kita semua”, kata Pak Narto.

Dalam sambutannya, Prof. Syafii Mufid menekankan akan pentingnya dakwah islamiyah ber amar makruf nahi munkar kepada semua umat manusia. “Tantangan umat Islam yang sangat nyata saat ini adalah neo kolonialisme, kapitalisme dan feodalisme. Lawan dari semua itu hanya dua yaitu Islam dan konfusionisme. Dengan tujuan agar umat Islam tidak bisa bangkit dari berbagai macam keterbelakangan dan keterpurukan”, lanjut Profesor.

Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad Rasulnya, berkewajiban untuk merealisasikan dan mendakwahkan nilai-nilainya dalam realitas kehidupan. Setiap dimensi kehidupan harus terwarnai dengan nilai-nilai tersebut dalam kondisi apapun juga.

Namun dalam realitas kehidupan dan fenomena umat, tidak setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu mengimplementasikan dalam seluruh sisi-sisi kehidupannya. Dan orang yang mampu mengimplementasikannya belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitmen dan istiqomah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya. “LDII hendaknya tetap istiqomah dan konsisten dalam dakwah Islam. Karena inilah yang sudah ditinggalkan oleh yang lain. Dakwah yang diharapkan disini adalah dalam rangka meningkatkan kualitas akhlak manusia. Caranya melalui taklim (pembelajaran), tarbiyah (pendidikan) dan ta’dib”, kata Kyai Syafii Mufid memungkasi sambutannya tersebut. (gB)
Artikel Ini Dicari Dengan Keyword:
■kelembagaan dakwah
■struktur dakwah islam
■Pendapat seseorang tentang LDII lembaga dakwah islam indonesia
■makalah tentang lembaga islam di indonesia
■www makalah tentang kontribusi ormas islam terhadapa pendidikan di indonesia com
■makalah dakwah islam di indonesia
■lembaga-lembaga perundangan islam di indonesia
■lembaga islam di indonesia
■lembaga dakwah islam NU
■Lembaga Dakwah islam indonesia
■ldii menurut gusdur
■makalah islam modern di indonesia
■makalah kelembagaan islam
■makalah lembaga dakwah
■MAKALAH LEMBAGA PERUNDANGAN ISLAM INDONESIA
■materi Akulturasi Islam dan Budaya Lokal : kesenian dan pranata sosial
■pelembagaan dakwah dalam masyarakat
■pentingnyadakwah islamiah
■Struktur yayasan dakwah
■syariatLDII islam
■dakwah islam di indonesia pada era modern sekarang
■berita terbaru pondok pasentren ldii kediri
■dakwah islam di indonesia di era modernisasi
■contoh makalah pelembagaan dakwah dalam masyarakat
■artikel tentang organisasi islam ldii
■DAKWAH ISLAM DIBIDANG KEAGAMAAN
■makalahtentangormas islam
■Makalah: keberagamaan Islam di Indonesia
■contoh majkalah pelembagaan dakwah islam dalam masyarakat modern
■makalah tentang perkembangan lembaga dakwah kontemporer
■makalah tentang pandangan isalam terhadap dakwah
■makalah tentang pancasila dengan dakwah islam
■makalah tentang ormas islam indonesia
■makalah tentang organisasi islam dan peranannya
■makalah tentang organisasi dakwah islam
■contoh makalah dakwah
■makalah tentang lembaga di indonesia
■makalah tentang lembaga dakwah islam indonesia
■makalah tentang dakwah islam di indonesia
■makalah tantang lembaga dakwah/keagamaan
■makalah struktur dakwah islam
■makalah pelembagaan dakwah islam dalam masyarakat nodern
■Opini tentang kemajemukan ormas islam
■organisasi dakwah di surabaya
■organisasi dakwah yang ada di indonesia
■struktur organisasi dakwah islam indonesia
■www peta islam di indonesia com
■realitas sosial dan budaya lembaga dakwah di indonesia
■pondok pesantren era orde lama di salatiga
■politik akulturasi islam dengan indonesia
■pesantren LDII
■perkembangan dakwah era modern di indonesia
■peranan lembaga dakwah islam
■peran pelembagaan dakwah dalam masyarakat
■peran ARMATIM surabaya
■ciri-ciri dakwah islam di indonesia pada era modern
■contoh dakwah islam
■pelembagaan dakwah dalam masyarakat indonesia
■contoh lembaga dakwah kontemporer
■pelembagaan dakwah dalam
■pelembagaan dakwah
■artikel islam tentang dakwah dan organisasi
■makalah pelembagaan dakwah dalam masyarakat
■lembaga-lembaga islam dalam kelembagaan dakwah
■contoh yayasan sosial islam
■lembaga dakwah kontemporer
■lembaga dakwah islamiah indonesia
■dakwa islam dibidang ekonomi
■dakwah islam di indonesia
■lembaga dakwah islam bidang ekonomi
■dakwah islam di indonesia di era modern
■kumpulan makalah islam dan pranata sosial islam
■kelembagaan Islam
■kehidupan politikkediri
■islam-indo org
■islam modern di indonesia pandangan LDII
■dakwah keberagaman masyarakat
■artikel dakwa islam di indonesia di bidang keagamaan
■dakwah islam di indonesia pd era modern
■dakwah islam di indonesia di jaman modern
■contoh makalah tentang organisasi dakwah islam
■lembaga-lembaga sosial muslim di indonesia
■makala dakwa islam
■makalah ormas islam indonesia
■makalah ormas
■makalah organisasi islam yang ada di indonesia ldii
■makalah organisasi islam di indonesia
■contoh makalah gerakan pembaharuan islam dalam bidang politik
■makalah lembaga keagamaan
■makalah lembaga islam indonesia
■makalah lembaga dakwah islam indonesia
■contoh makalah lembaga dakwah kontemporer
■makalah kelembagaan islam di indonesia
■contoh makalah pelembagaan dakwah
■makalah kelembagaan dakwah
■makalah institusi yang berlaku di indonesia
■makalah institusi sosial keagamaan di indonesia
■makalah dakwah organisasi
■contoh makalah tentang dakwah
■makalah dakwah islam
■dakwah islam di indonesia era modern


http://www.walibarokah.org/ldii-kurang-gaul/



“Saya Mengharapkan LDII ikut membantu program-program pemerintah dan ikut serta mempekuat ukhuwah islamiyah” demikian ungkap Menteri Agama RI H. Suryadharma Ali pada saat menerima kunjungan Pengurus DPP LDII di ruang kerjanya 24 Oktober lalu. Lebih lanjut menteri Agama RI siap menjalin kerjasama instansinya dengan DPP LDII terkait dalam isu-isu global yang sedang berkembang saat ini.



Acara dihadiri oleh pengurus DPP LDII : Dewan Penasihat DR. Bambang Kusumanto, M.Sc, Ketua Umum LDII Prof. DR. Ir. KH. Abdullah Syam, M.Sc, Ketua Ir. H. Prasetyo Sunaryo, MT, DR. Ir. H. Shobar Wiganda, M.Sc, H. Achmad Kuntjoro, SE, MBA, H. Doddy Taufik Widjaya, SE, AK, M.Com, H. Abubakar Siddik, H. Hasim Nasution, SE, H. Muhamad ied, SE (ied/eq)

Oleh : Eko Mugianto

http://www.ldii.or.id/in/component/content/article/1-organisasi/721-silaturrahim-pengurus-dpp-ldii-dengan-menteri-agama-ri-.html

Benyamin Sueb - Wajah Kampung Rejeki Kota



Tokoh ini sudah tidak asing lagi di tanah air, tapi sedikit orang yang tahu bila Benyamin Sueb yang biasa dipanggil bang Ben adalah seorang warga LDII yang pada akhir-akhir hayatnya aktif memberikan nasehat-nasehat kepada warga.
Pada akhir khayatnya, beliau berwasiat agar kuburannya diratakan, tidak menggunung seperti gunung karena beliau tidak suka gunung katanya. Salah satu komentar dia yang menarik adalah, "Gue mabok-mabokan gak ada yang ribut, gue udah bener dan ngaji sekarang banyak yang ribut", demikian katanya.

Benyamin yang telah empat belas kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat mempengaruhi hidupnya.

Dibawah ini adalah sedikit jalan hidupnya yang kami ambil dari wiki.

Benyamin Sueb (lahir di Kemayoran, Jakarta, 5 Maret 1939 – meninggal 5 September 1995 pada umur 56 tahun) adalah pemeran, pelawak, sutradara dan penyanyi Indonesia. Benyamin menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film.

Awal Karier

Kesuksesan dalam dunia musik diawali dengan bergabungnya Benyamin dengan satu grup Naga Mustika. Grup yang berdomisili di sekitar Cengkareng inilah yang kemudian mengantarkan nama Benyamin sebagai salah satu penyanyi terkenal di Indonesia.

Duet dengan Ida Royani

Selain Benyamin, kelompok musik ini juga merekrut Ida Royani untuk berduet dengan Benyamin. Dalam perkembangannya, duet Benyamin dan Ida Royani menjadi duet penyanyi paling popular pada zamannya di Indonesia. Bahkan lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi tenar dan meraih sukses besar. Sampai-sampai Lilis Suryani salah satu penyanyi yang terkenal saat itu tersaingi.

Gambang kromong

Orkes Gambang Kromong Naga Mustika dilandasi dengan konsep musik Gambang Kromong Modern. Unsur-unsur musik modern seperti organ, gitar listrik, dan bass, dipadu dengan alat musik tradisional seperti gambang, gendang, kecrek, gong serta suling bambu.

Setelah Orde Lama tumbang, yang ditandai dengan munculnya Soeharto sebagai presiden kedua, musik Gambang Kromong semakin memperlihatkan jatidirinya. Lagu seperti Si Jampang (1969) sukses di pasaran, dilanjutkan dengan lagu Ondel-Ondel (1971).

Lagu-lagu lainnya juga mulai digemari. Tidak hanya oleh masyarakat Betawi tetapi juga Indonesia. Kompor Mleduk, Tukang Garem, dan Nyai Dasimah adalah sederetan lagunya yang laris di pasaran. Terlebih setelah Bang Ben berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Nonton Bioskop, nama Benyamin menjadi jaminan kesuksesan lagu yang akan ia bawakan.
[sunting] Paska duet dengan Ida Royani

Setelah Ida Royani hijrah ke Malaysia tahun 1972, Bang Ben mencari pasangan duetnya. Ia menggaet Inneke Koesoemawati dan berhasil merilis beberapa album, di antaranya "Nenamu" dengan tembang andalan seperti Djanda Kembang, Semut Djepang, Sekretaris, Penganten Baru dan Pelajan Toko.

Dunia film

Lewat popularitas di dunia musik, Benyamin mendapatkan kesempatan untuk main film. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Beberapa filmnya, seperti Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradari Syumanjaya, semakin mengangkat ketenarannya. Dalam Intan Berduri, Benyamin mendapatkan piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.

Akhir karier

Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron/film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Rock Al-Haj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.

Kontribusi terhadap gambang kromong

Dalam dunia musik, Bang Ben (begitu ia kerap disapa) adalah seorang seniman yang berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong. Lewat kesenian itu pula nama Benyamin semakin popular. Tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno, melarang diputarnya lagu-lagu asing di Indonesia. Pelarangan tersebut ternyata tidak menghambat karier musik Benyamin, malahan kebalikannya. Dengan kecerdikannya, Bang Ben menyuguhkan musik Gambang Kromong yang dipadu dengan unsur modern.

Untuk lebih jelasnya bisa anda lihat disini: http://id.wikipedia.org/wiki/Benyamin_Sueb

http://www.ldii.or.id/in/component/content/article/27-sosok/586-benyamin-sueb-wajah-kampung-rejeki-kota.html#comments

Rabu, 16 November 2011

KEUTAMAAN MENYEMBELIH HEWAN QURBAN

1."Qoola rosuululloohi shollalloohu ‘alaihi wasallama maa min ayyaamin al-‘amalush-shoolihu fiihaa ahabbu ilalloohi min haadzihil ayyaami ya’nii ayyaamal ‘asyro qooluu yaa rosuulaloohi walaal jihaadu fii sabiilillaahi qoola walal jihaadu fii sabiilillaahi illaa rojulun khoroja binafsihi wamaalihi falam yarji’ min dzaalika bisyai-in

Rosulullohi Shollalloohu Alaihi Wasallam bersabda: “Tiada hari beramal sholeh dalam hari itu yang paling disenangi Alloh daripada hari ini yakni hari tanggal 10 Dzul Hijjah”. Mereka berkata: “Bukankah berjihad di dalam jalan Alloh ? Rosululloh bersabda: “Bukan berjihad di dalam jalan Alloh, melainkan seorang laki-laki yang keluar (ke medan perang) dirinya dan hartanya lalu dia tidak pulang dengan sesuatu pun (pulang tinggal namanya: dirinya mati, hartanya habis). (HR. Abu Daud).



2. ‘An ‘aa-isyata anna rosuulalloohi shollalloohu ‘alaihi wasallama qoola maa aadamiyyu min ‘amalin yauman nahri ahabba ilalloohi min ahrooqid dami innahaa lata’tii yaumal qiyaamati biquruunihaa wa asya’aarihaa wa-adhzlaafihaa wa innad-dama layaqo’u minalloohi bimakaanin qobla an yaqo’a minal ardhi fathiibuu bihaa nafsaa(n)"



Artinya: "Dari Aisyah, sesungguhnya Rosulallohi Shollalloohu Alaihi Wasallam bersabda: “Tiada amalan anak cucu Adam pada hari menyembelih qurban (tanggal 10 Dzul Hijjah) yang paling disenangi Alloh daripada mengalirkan darah (berqurban). Sesungguhnya hewan qurban itu kelak pada hari Kiamat niscaya datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, kuku-kuku kakinya. Dan sesungguhnya darah niscaya jatuh di suatu tempat di sisi Alloh sebelum darah itu jatuh di bumi, maka bersenang hatilah kamu dengan qurban”. (HR. Tirmidzi)





3. "Man dhoh-haa thoyyibatan bihaa nafsuhu muhtasiban li-udh-hiyatihi kaanat lahu hijaaban minan-naari"



artinya: "Barangsiapa yang berqurban dengan senang hati lagi mencari fahala pada sembelihan qurbannya, maka hewan qurbannya itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka." (HR. Thobrooni).




4. "Annal udh-hiyata laisat biwaajibatin walaakinnahaa sunnatun min sunnanin nabiyyi shollalloohu ‘alaihi wasallama yustahabbu an yu’mala bihaa"



artinya: "Sesungguhnya berqurban itu tidak wajib, tapi merupakan sunnah yaitu sunnahnya Nabi Shollalloohu Alaihi Wasallam, sangat disenangi bila qurban itu diamalkan". (HR. Tirmidzi).







5. ‘Anibni umaro qoola aqooma rosuululloohi shollalloohu ‘alaihi wasallama bil madiinati ‘syro siniina yudhoh-hii"

artinya: "Dari Ibni Umar, Ibni Umar berkata: “Rosulullohi Shollalloohu Alaihi Wasallam bermukim (bertempat tinggal) di Madinah 10 tahun menyembelih qurban terus”. (HR. Tirmidzi).





6. "Walbudna ja’alnaahaa lakum min syaa’aa-irillaahi lakum fiihaa khoirun fadzkurusmallooha ‘alaihaa showaafa fa-idzaa wajabat junuubuhaa fakuluu minhaa wa-ath’imulqooni’a walmu’tarro kadzaalika sakh-khornaahaa lakum la’al-lakum tasykuruuna lan yanaalallooha luhuumuhaa walaa dimaa-uhaa walaakin yanaaluhut-taqwaa minkum kadzaalika sakh-khorohaa lakum litukabbirullooha ‘alaa maa hadaakum wabasy-syiril muhsiniina"



artinya: “Dan unta-unta yang telah Kami (Alloh) jadikan itu untuk kamu termasuk syi’ar (sebahagian dari tanda-tanda kebesaran) Alloh, kamu memperoleh kebaikan yang banyak di dalamnya. Maka sebutlah nama Alloh ketika kamu atas (menyembelih) nya keadaan berdiri. Maka ketika lambungnya telah roboh (mati), lalu makanlah dari sebahagiannya dan memberilah makan orang yang tidak meminta dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu agar kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu tidak akan sampai pada Alloh (Alloh tidak butuh daging dan darah qurban), tapi ketaqwaan kamu yang akan sampai kepada-Nya. Demikianlah Alloh telah menundukkannya kepada kamu supaya kamu membesarkan kepada Alloh atas apa-apa yang telah Alloh tunjukkan kepada kamu (bertakbiran). Dan memberilah khabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Hajj, No. Surat 22 Ayat 36-37).


http://www.lantabur.tv/index.php?option=com_content&view=article&id=36:keutamaan-menyembelih-hewan-qurban&catid=4:frontpage&Itemid=1

" SOMEBODY Asked ME "


Adalah buku kumpulan tanya jawab melalui E-mai
Berisi 85 daftar bahasan dengan 527 halaman
Anda dapat memiliki buku ini dengan mengganti
ongkos cetak seharga Rp 100.000,-
Pemesanan melalui menu Contact yang ada di web Lantabur TV
( Biaya pengiriman ditanggung pemesan )

Bagi anda yang sudah login di web Lantabur TV
dapat menggunakan fasilitas :
- Ummat Bertanya Ustadz Menjawab -
Tanya - Jawab Melalui E-mail bersama Ust.Aceng karimullah

Adapun penjelasan lengkap tentang buku "SOMEBODY Asked ME"
Silahkan anda baca artikel dibawah ini.

Kegiatan dakwah tidak mesti harus dengan bahasa lisan dan dikumandangkan dari atas sebuah podium. Dakwah juga bisa dengan “pena” (bahasa tulisan), bahkan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi (internet) dan jejaring sosial.Kalimat-kalimat dakwah pun tidak mesti dalam bentuk kalimat formal dan kaku tapi bisa juga dalam gaya bahasa yang santai dan lugas (tapi tetap serius) yang mudah dipahami oleh objek dakwah..



Sedangkan materi dakwah tidak hanya terbatas pada urusan sorga dan neraka (kehidupan akhirat) tapi harus mencakup semua aspek kehidupan dan kesehari-harian sehingga tercapailah tekad kita sebagai muslim bahwa “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk mencari ridho Alloh tuhan seru sekalian alam”.


Inilah yang akan kita temukan dalam buku "SOMEBODY Asked ME ", jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan menyangkut masalah kesehari-harian beribadah dan bermasyarakat, dari soal aqidah dan ibadah sampai soal rumah tangga maupun pemilu, disajikan dengan kalimat-kalimat santai (malah terkadang kocak) tapi serius.

Rabu, 19 Oktober 2011

Witir (ganjil)

Dulu saya sering mendengar
penyampai
mengumandangkan dalil;
Innallaha witr yuhibbu witr –
Sesungguhnya Allah itu ganjil
dan senang dengan yang ganjil (Rowahu Bukhori,
Muslim dan Ibnu Khuzaimah di
dalam Shahihnya dari Abu
Huroiroh), untuk mendasari
mengucap salam lebih dari 1
kali dan menjadikannya 3 kali. Sekarang rasanya jarang
mendengar dalil itu lagi. Sudah
terbiasa atau emang jarang
digunakan lagi. Memang
dalam kehidupan ini hampir
semua hitungan yang dijadikan sebagai aturan
jumlahnya ganjil. Contohnya
jumlah rekaat sholat sehari -
semalam 17 rekaat, tarawih 11
rekaat, hitungan wudhu yang
paling disenangi/sempurna juga 3 kali – 3 kali, mau istinja
jumlah batunya juga ganjil, 3,
5, dst. Sampai kita kenal
angka 313, sebutan 7 langit
dan malam ganjil untuk
mencari pahala lailatul qodar. Itu mungkin deskripsi witir
dalam kehidupan nyata ini.
Lupakan itu semua, yang ingin
saya ketengahkan kali ini
adalah masalah sholat witir.
Ada apa dengannya? Sebenarnya tak ada apa – apa,
saya hanya penasaran, kenapa
sih saya tidak bisa melakukan
sholat witir? Kenapa hanya di
bulan puasa saja tertib
witirnya? Di bulan yang lain kok tidak tertib? Dan saya
sudah berusaha 3 tahun
terakhir ini untuk bisa
menjalankan salah satu
sunnah tersebut. Hasilnya
masih juga bolong – bolong. Berbagai kiat dan giat sudah
dilakukan, akhirnya saya
menjatuhkan pilihan
melakukan sholat witir
sebelum tidur. Itu yang saya
mampu. Itu yang saya bisa. Mungkin kadang terlihat aneh,
sore – sore kok witir. Habis
mau bangun malam kadang
kebablasan. Sejujurnya bukan
kadang – tetapi banyak
bablasnya ketimbang bangunnya sehingga gak
witir. Niat sih ada terus, tapi
apakah hidup ini cukup
dengan niat saja? He, he,
he,,,,lha da lah,,,,,,… Dulu Pak ustad di kampung
saya memberikan wejangan -
tip yang sederhana dan
ciamik. Dia bilang, “Untuk
melatih sholat witir,
tambahkanlah sehabis sholat sunnah ba’da isya 1 rekaat
saja.” Maka dulu kami pun
ramai – ramai
mengerjakannya sehabis
sholat sunah ba’da isya. Sekian
waktu berlalu dan semakin meluntur kegiatan itu, saya
terpacu lagi untuk
memulainya - sebagai bagian
taqorrub ilallah dari hamba
yang lemah ini. Semoga tidak
terlambat. Ya, ini memang sunah bukan
wajib. Bahkan mungkin ada
yang mencibirnya. Namun
bagi saya adalah sebuah jalan
besar menuju kecintaan
kepada Allah. Di samping jalan lain yang mungkin orang
tempuh. Sebab banyak jalan
menuju keridhoan Allah,
bukan hanya ke Roma saja. Nah, bagi yang mau
menempuh jalan sholat witir
untuk mempertinggi derajat
amalannya berikut beberapa
dalil tentangnya. Dari Ali ra., ia berkata, ‘Witir
bukan keharusan seperti
sholat wajib kalian, akan
tetapi Rasulullah SAW biasa
melakukannya, dan Beliau
bersabda, “Sesungguhnya Allah adalah witir, mencintai
witir, maka lakukanlah sholat
witir wahai ahli
qur’an.” (Rowahu Abu
Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i,
Ibnu Majah) Dari Jabir ra., ia berkata,
Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa khawatir tidak
bangun di akhir malam, maka
hendaknya dia berwitir di
awalnya, dan barangsiapa yakin akan bangun di akhir
malam, maka hendaknya dia
berwitir di akhirnya, karena
sholat diakhir malam
disaksikan dan dihadiri (oleh
malaikat) dan itu lebih utama.” (Rowahu Muslim). Dari Jabir ra., dia berkata,
Rasulullah SAW bersabda,
“Wahai ahli qur’an,
berwitirlah kalian karena
Allah adalah witir dan
menyukai witir.” (Rowahu Abu Dawud). Dari Abu Tamim al-Jaisyani,
dia berkata, aku mendengar
Amru bin al-Ash berkata,
seorang lelaki
memberitahukan kepadaku
bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah
menambahkan satu sholat
kepada kalian, maka
tegakkanlah ia diantara isya
dan shubuh, yaitu sholat
witir”. (Rowahu Ahmad) Dari Abu Huroiroh r.a, dia
berkata, ”Kekasihku SAW
mewasiatkan kepadaku tiga
perkara, agar aku berpuasa
tiga hari setiap bulan,
melaksanakan sholat dhuha 2 rekaat dan melaksanakan
sholat witir sebelum
tidur.”[Rowahu Al-Bukhory
(Kitaabu al-Jumu’ati), Muslim
( Kitaabu Sholaati al-
Mufaasiriina wa qoshrohaa), Abu Dawud (Kitaabu As-
Sholaah), at-Tirmidzi (Kitaabu
as-Shoumi) dan an-Nasa’i
(Kitaabu as-Shiyaami)]. Dari Abu Darda’, dia berkata,
“Kekasihku SAW
mewasiatkan tiga perkara
kepadaku, aku tidak akan
meninggalkannya selama aku
hidup; yaitu puasa tiga hari setiap bulan, sholat dhuha dan
agar aku tidak tidur sebelum
sholat witir.” (R. Muslim, Abu
Dawud dan an-Nasa’i). Jadi, sekarang bukan hanya
salam saja yang kita jangkepi
witir. Sholat sunnah kita pun
rasanya perlu juga
diperjuangkan. Setidaknya
dengan tip di atas. Sholat witir sehabis isya atau sebelum
tidur. Silahkan dicoba. Kenapa
tidak? Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah

Bahayanya Zina

oleh: Zahri - LDII Tulungagung Apasih yang di maksud ZINA.
Oke, kali ini LDII Tulungagung
akan membahas sedikit dari
dosa perbuatan Zina. Zina
adalah hubungan sex/badan
antara laki-laki dan perempuan tanpa ikatan
perkawinan yang sah/resmi.
Perbuatan yang sungguh di
murkai oleh Allah dan
mendapat murka dari Allah di
dunia maupun di Akhirat, ingat dengan cantolan-
cantolah dari para penasehat
zaman dahulu: "wong seng nglakoni zina,
ndak kurop blos, ibarate enak
e sak klenteng, lorone sak
rendeng" - Orang yang melakukan zina,
tidak ada untungnya sama
sekali, di ibaratkan enaknya
satu klenteng (biji pohon
kapuk) dan sakitnya
sepanjang musim penghujan. Jadi kesimpulan dari kata-
kata diatas adalah, bahwa Zina
lebih banyak menanggung
sakit (dosa) dari pada
enaknya. Nabi pun juga telah
besabda dalah Al-hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi
tentang bahayannya orang
berbuat ZINA : ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻦﻋ ﻝﺎﻗ ﻪﻧﺃ : ﻦﻴﻤﻠﺴﻤﻟﺍ ﺮﺸﻌﻣ ﺎﻳ
ﻝﺎﺼﺧ ﺖﺳ ﻪﻴﻓ ﻥﺈﻓ ﺎﻧﺰﻟﺍ ﺍﻮﻘﺗﺍ
ﺓﺮﺧﻵﺍ ﻲﻓ ﺙﻼﺛﻭ ﺎﻴﻧﺪﻟﺍ ﻲﻓ ﺙﻼﺛ ﺎﻴﻧﺪﻟﺍ ﻲﻓ ﻲﺘﻟﺍ ﺎﻣﺄﻓ : ﺀﺎﻬﺑ ﺏﺎﻫﺬﻓ
ﺮﻘﻔﻟﺍ ﻡﺍﻭﺩﻭ ﺮﻤﻌﻟﺍ ﺮﺼﻗﻭ ﻪﺟﻮﻟﺍ
ﻂﺨﺴﻓ ﺓﺮﺧﻵﺍ ﻲﻓ ﻲﺘﻟﺍ ﺎﻣﺃﻭ
ﺀﻮﺳﻭ ﻰﻟﺎﻌﺗﻭ ﻙﺭﺎﺒﺗ ﻪﻠﻟﺍ ﺭﺎﻨﻟﺎﺑ ﺏﺍﺬﻌﻟﺍﻭ ﺏﺎﺴﺤﻟﺍ * ﻩﺍﻭﺭ
ﻲﻘﻬﻴﺒﻟﺍ Nabi SAW bersabda: "Wahai
golongan orang Islam
takutlah kalian berbuat zina,
karena sesungguhnya dalam
zina itu ada enam perkara
(siksaan), tiga di dunia dan tiga di akhirat. Adapun tiga
perkara di dunia: (1)Hilangnya
wibawa, (2)Pendeknya umur,
dan (3)menjadi miskin
selamanya. Adapun tiga
perkara di akhirat adalah: (1)murka Allah, (2)jeleknya
hisaban dan (3)siksa neraka".
Hadist Riwayat Baihaki Bahayanya orang yang zina : Zina itu menghilangkan
cahaya iman dari hati
pelakunya
Zina itu perbuatan buruk yang
bias membawa kematian
pelakunya (umurnya pendek) Penzina do’anya tidak di
kabulkan oleh Allah
Menyala-nyala api di wajah
orang yang berbuat zina nanti
di akhirat
Orang yang berbuat zina di siksa dalam tungku besar
yang nyala apinya
menghancurlumatkan
tubuhnya kemudian di
kembalikan lagi jasadnya dan
di hancurlumatkan lagi oleh nyala api yang berkobar-
kobar , begitu terus menerus
Orang yang berbuat zina
baunya sangat busuk ,
menyakitkan sesama ahli
neraka Ahli zina di hapus dari daftar
orang-orang baik
Allah tidak melihat kepada
ahli zina dengan pandangan
hormat
Allah mengharamkan surga dan mengharamkan mencium
bau surga kepada ahli zina Akhir kata, hargai diri anda
sekalian, janganlah sampai
kita berbuat zina, sayang
cantik dan ketampanan anda.
Bila kita melakukannya,
hilanglah surga dari diri kita, ingat kehidupan yang kekal
hanya di akhirat, "karna di
dunia kita cuman mamper
ngombe ",di dunia cuman
mampir minum. : ًﺔَﺸِﺣﺎَﻓ َﻥﺎَﻛ ُﻪَّﻧِﺇ ﻰَﻧِّﺰﻟﺍ ْﺍﻮُﺑَﺮْﻘَﺗ َﻻَﻭ
ًﻼﻴِﺒَﺳ ﺀﺎَﺳَﻭ Hayo...siapa yang berani Zina?
Atau mengarah ke
perzinahan? Ucapan syukur juga saya
berikan untuk mas Arie Fin
Jockam yang telah memberi
inspirasi dan terbitnya artikel
saya ini, alhamdulillah jaza
kallahu khoiro

Mencari Malam 1000 Bulan

Oleh : Wilnan Fatahillah


Alhamdulillah, kita panjatkan
syukur ke hadirat Alloh SWT
karena saat ini kita sudah
memasuki 10 hari yang akhir
dari ramadan 14.. H. Jika
dianalogikan dengan perlombaan, 10 hari yang
akhir dari ramadan
merupakan saat-saat
penentuan keberhasilan di
dalam meraih kemenangan.
Sebagai hari-hari penentuan, 10 hari akhir ramadan
hendaknya diisi dengan lebih
meningkatkan amal ibadah
kepada Alloh sebagaimana
yang dicontohkan oleh
Rasulalloh SAW dan tidak terlarut dalam kesenangan
duniawi. Apalagi di dalam 10
hari akhir ramadan ada satu
malam yang seharusnya dicari
oleh seluruh umat Islam. Hal
ini karena besarnya keutamaan yang diberikan
oleh Alloh bagi yang
mendapatkannya, yaitu
malam 1000 bulan (Lailatul
Qodar). Malam 1000 bulan (Lailatul
Qodar) merupakan malam
yang penuh kemuliaan yang
diberikan kepada umat Nabi
Muhammad SAW. Kisah ini
diriwayatkan dari Ali bin Urwah, dia berkata: “suatu
hari Rasulalloh bercerita
tentang empat orang dari bani
israil yaitu nabi Ayyub, nabi
Zakaria, Hizqil dan Yusa’ bin
Nun. Mereka beribadah kepada Alloh selama 80 tahun
dan tidak pernah berbuat
maksiat sekejap matapun.
Para sahabat menjadi heran
dan kagum mendengar cerita
tersebut. Kemudian Malaikat Jibril datang kepada
Rasulalloh lalu dia berkata:
“Wahai Muhammad umatmu
terheran-heran kepada
mereka yang telah beribadah
selama 80 tahun dan tidak pernah berbuat maksiat
sekejap matapun, ketahuilah
bahwa Alloh telah
menurunkan sebuah surat
yang lebih baik daripada apa
yang mereka lakukan.” Kemudian Malaikat Jibril
membacakan surat Al-Qodar
kepada Rasulalloh. Lalu
Malaikat Jibril berkata: “ini
lebih utama daripada apa yang
dikagumkan olehmu dan umatmu.” Akhirnya
Rasulalloh dan para sahabat
menyambutnya dengan
senang hati.” (HR Ibnu Abi
Hatim). Dari hadits tersebut tersirat
bahwa bagi umat Nabi
Muhammad SAW diberi oleh
Alloh kesempatan untuk
mendapatkan sesuatu yang
lebih mulia dari apa yang telah dilakukan oleh empat hamba
Alloh yang selalu beribadah
dan tidak pernah melanggar
selama 80 tahun. Caranya
adalah jika bertemu dengan
dan beribadah di dalam malam 1000 bulan, yang hanya turun
satu hari di dalam setiap
ramadan. Malam 1000 bulan (Lailatul
Qodar) merupakan malam
yang penuh keberkahan dan
keagungan illahi, yang mana
amal dan ibadah yang
dilakukan oleh umat Islam pada malam tersebut oleh
Alloh diberikan pahala lebih
baik daripada amal-ibadah
seribu bulan. Malam 1000 bulan
juga merupakan malam
penentu bagi takdir manusia yang dibawa oleh para
malaikat di malam itu.
Sebagaimana firman Alloh di
dalam QS. Al-Qodar: 1-5, yang
artinya: Sesungguhnya Kami
telah menurunkan Al-Quran pada malam Qodar; Dan
tahukah kamu apakah malam
Qodar itu?; Malam qodar itu
lebih baik dari 1000 bulan;
Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin
Tuhannya untuk mengatur
segala urusan; Malam itu
(penuh) kesejahteraan sampai
terbit fajar. Sungguh
merupakan kebahagiaan yang sangat besar jika kita dapat
menjumpai malam 1000 bulan
di dalam Ramadan 14.. H ini. Bagaimana agar kita dapat
menjumpai malam 1000
bulan? Di dalam sebuah hadits,
Rasulalloh bersabda:
“Sesungguhnya aku bermimpi
diperlihatkan tentang malam Qodar namun kemudian aku
dilupakannya, maka carilah
Lailatul Qodar di dalam
sepuluh malam yang
akhir.” (HR Bukhari).
Selanjutnya, Rasulalloh telah memberi contoh kepada kita
semua tentang amalan yang
selalu dilakukan oleh beliau di
dalam 10 hari terakhir
ramadan, yaitu dengan
melakukan i’tikaf. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid,
melakukan ibadah dan
menahan dirinya untuk keluar
masjid. Selama i’tikaf di
masjid, kita dapat beribadah
yang kita mampu seperti shalat sunah, tadarus Al-
Qur’an, berdzikir dan berdo’a.
Semua itu sekaligus diniatkan
untuk mencari pahala malam
1000 bulan (Lailatul Qodar). Di
dalam sebuah riwayat dari ‘Aisyah dia berkata: “Ketika
masuk sepuluh malam
terakhir di bulan ramadan
Rasulalloh mengencangkan
kain sarungnya dan
menghidup-hidupkan waktu malamnya dan
membangunkan
keluarganya.” (HR Bukhari). Banyak perdebatan tentang
pada hari yang ke berapa
malam 1000 bulan (Lailatul
Qodar) diturunkan oleh Alloh.
Ada sejumlah riwayat yang
mengatakan bahwa malam 1000 bulan turun pada malam
yang ganjil dari 10 hari
terakhir ramadhan. Namun
demikian apakah malam ganjil
menurut perhitungan manusia
itu sama dengan apa yang ditentukan Alloh? Wallohu
a’lam! Untuk itu, agar dalam
bulan ramadan tahun ini kita
mendapatkan peluang
memperoleh pahala malam
1000 bulan, cara yang paling afdhol adalah melakukan
i'tikaf setiap malam di sepuluh
hari terakhir bulan ramadan.
Dengan demikian, kapanpun
malam 1000 bulan turun,
InsyaAlloh kita selalu dalam keadaan beribadah kepada
Alloh serta akan
mendapatkan keutamaan dan
pahala malam 1000 bulan. Bertemu malam 1000 bulan,
sungguh suatu kesempatan
yang tidak boleh dilepaskan
karena rata-rata umur umat
Nabi Muhammad SAW
hanyalah sekitar 60-65 tahun. Disamping itu, belum tentu
tahun depan kita masih akan
bertemu dengan bulan
ramadan kembali. Mari kita
makmurkan setiap masjid di
Bogor dengan kegiatan i’tikaf dalam rangka mencari malam
1000 bulan pada ramadan
tahun ini.

Sucikan Diri Dengan Zakat

Oleh: Wilnan Fatahillah


Alhamdulillah perjuangan kita
menyelesaikan puasa di bulan
Ramadan tahun 14.. H akan
segera berakhir dalam
beberapa hari ke depan ini. Di
satu sisi kita bersyukur dan besuka-cita atas selesainya
Ramadan tetapi di sisi lain kita
menangis karena tidak tahu
apakan Alloh SWT masih akan
memberikan kesempatan
kepada kita untuk bertemu dengan Ramadan tahun
depan. Dengan menyelesaikan puasa
Ramadan berarti kita telah
lulus dari ujian yang diberikan
oleh Alloh melalui menahan
lapar dan perbuatan yang sia-
sia. Namun demikian sebelum kita bersuka-ria menyambut
datangnya ‘Iedul Fitri, ada
baiknya kita diingatkan akan
satu kewajiban yang harus
ditunaikan oleh seluruh umat
Islam menjelang berakhirnya puasa Ramadan, yaitu
menunaikan zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan
kewajiban bagi satu-satunya
umat Islam. Tidak
memandang apakah dia kaya
atau miskin, orang merdeka
atau budak, orang dewasa atau anak kecil, lelaki atau
perempuan, semuanya
berkewajiban menunaikan
zakat fitrah setahun sekali.
Adapun bentuknya adalah
satu sho’ bahan makanan yang dimakan sehari-hari di
tempat tinggalnya masing-
masing. Kalau di Indonesia,
zakat fitrah dapat
diwujudkan dalam bentuk
beras, yang setara dengan 2.751 kg. Di dalam sebuah hadits dari
Abdullah bin Umar, dia
berkata: “Rosulalloh
mewajibkan zakat fitrah
sebanyak satu sho’ kurma
atau satu sho’ gandum kepada budak dan orang merdeka
dan laki-laki dan perempuan
dan anak kecil dan orang tua
dari orang-orang Islam dan
beliau memerintahkan agar
diserahkan sebelum orang- orang keluar mengerjakan
sholat hari raya.” (HR.
Bukhari). Dalam hadits
tersebut tersirat bahwa
kewajiban zakat berlaku
untuk semua orang dan tidak ada kecualinya. Bahkan,
seorang bayi yang baru lahir
menjelang ‘Iedul Fitri pun
mempunyai kewajiban untuk
menunaikan zakat. Ada kefahaman yang kurang
pas di kalangan masyarakat
Indonesia yang beranggapan
bahwa kewajiban
menunaikan zakat fitrah
hanya berlaku bagi yang mampu saja sedangkan yang
tergolong sebagai fakir miskin
tidak berkewajiban
menunaikan zakat fitrah
tetapi hanya menerimanya
sebagai salah satu mustahiq (penerima) zakat. Menilik
makna yang tersirat dalam
hadits diatas maka baik yang
kaya maupun yang miskin
semuanya wajib menunaikan
zakat fitrah. Lantas bagaimana kalau ada
satu keluarga untuk makan
sehari-hari saja tidak cukup,
apalagi untuk membayar
zakat fitrah? Jawaban dari
pertanyaan ini sebenarnya terletak pada kearifan dari
petugas yang ditunjuk
sebagai amil zakat. Tugas amil
zakat seharusnya tidak hanya
menerima dan membagi zakat
saja, tetapi harus bisa mendata siapa-siapa yang tergolong
fakir miskin di lokasinya
bertugas, mengusahakan agar
kepada orang-orang tersebut
dapat diberikan pinjaman
beras/bahan makanan pokok lainnya yang diperlukan
untuk membayar zakat fitrah
keluarganya, dan
memberikan bagian zakat
fitrah yang lebih banyak bagi
keluarga tersebut agar mampu membayar hutang
dan memanfaatkan kelebihan
yang diterimanya untuk
merayakan ‘Iedul Fitri.
Dengan pendekatan seperti itu
umat muslim yang tergolong fakir miskin tetap dapat
menunaikan kewajiban zakat
fitrahnya tanpa rasa berat hati
dan dapat merayakan ‘Iedul
Fitri bersama keluarganya.
Sebaliknya, bagi keluarga yang kaya, diuji oleh Alloh
apakah dia sanggup dan ikhlas
menyisihkan sebagian
hartanya untuk membantu
saudaranya yang tidak
seberuntung dia di dalam urusan materi. Menunaikan zakat fitrah
bukan hanya untuk
menggugurkan kewajiban
sebagai seorang muslim tetapi
juga memiliki arti penting
lainnya. Dalam bahasa arab, kata fitrah di dalam zakat
fitrah mempunyai arti suci
sehingga salah satu fungsi
zakat fitrah yang diserahkan
oleh setiap muslim berfungsi
sebagai pembersih (pensuci) bagi dirinya dari segala
perbuatan jelek yang
dikerjakannya selama bulan
Ramadan. Hal ini sebagaimana
disebutkan di dalam hadits
dari Abdullah bin ‘Abbas, dia berkata: “Rasulalloh
mewajibkan zakat fitrah
bertujuan agar mensucikan
orang yang berpuasa dari
laghwun (perbuatan yang sia-
sia) dan perbuatan maksiat dan sebagai warana untuk
memberikan makan kepada
orang-orang miskin.” (HR.
Abu Dawud). Bahkan di dalam
hadits riwayat dari Abu Hafs
bin Syahiin disebutkan bahwa pahala puasa Ramadan
seseorang dapat terangkat ke
langit dan diterima oleh Alloh
jika dia sudah menunaikan
zakat fitrah.
Pertanyaan terakhir, mumpung ‘Iedul Fitri masih
beberapa hari lagi, tanyalah
pada masing-masing diri –
sudahkah kewajiban
menunaikan zakat fitrah bagi
keluarga kita laksanakan? Kalau belum, ayo… hubungi
amil zakat setempat dan
tunaikan zakat fitrahnya agar
diri kita dapat tersucikan dari
berbagai perbuatan sia-sia
selama Ramadan 14.. yang akan segera lewat.

Taqobalallohu Minna Wa minkum

Oleh: Rudi Abdillah

Datangnya ‘Iedul Fitri tanggal
1 Syawal 14.. H disambut
dengan suka cita oleh umat
Islam di Indonesia dan di
berbagai penjuru dunia. ‘Iedul
Fitri pada tanggal 1 Syawal telah dirayakan oleh
masyarakat muslim sebagai
wujud kesyukuran kepada
Alloh atas keberhasilan dalam
menunaikan ibadah puasa
Ramadan satu bulan penuh. Mudik lebaran merupakan
tradisi dan ritual tahunan
yang biasa dilakukan oleh
masyarakat muslim di
Indonesia dalam rangka
merayakan ‘Iedul Fitri. Kesempatan merayakan
kemenangan perjuangan yang
telah diselesaikan selama
bulan Ramadan umumnya
sekaligus dimanfaatkan
sebagai sarana untuk silaturrahim dan saling
berkunjung diantara anak
dengan orang tua dan antar
saudara serta teman-teman.
Setiap kali bertemu dengan
sanak-saudara dan teman- teman, maka: “Selamat
lebaran, mohon maaf lahir dan
batin” merupakan ucapan
yang seringkali
diperdengarkan. Meskipun
tidak ada yang salah dengan ucapan tersebut sebagai
luapan kegembiraan atas
keberhasilan menyelesaikan
puasa Ramadan.
Pertanyaannya, apakah
ucapan tersebut sesuai dengan apa yang telah dicontohkan
oleh Rasulalloh SAW? Supaya diingat, sebagai umat
muslim kita meyakini bahwa
Rasulalloh merupakan contoh
yang baik untuk ditiru dan
diteladani tingkah laku,
perbuatan dan tutur katanya. Firman Alloh di dalam Al-
Qur’an menyatakan: “
Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulalloh itu suri
teladan yang baik (yaitu) bagi
orang yang mengharap (bertemu) Alloh dan
(kebahagiaan) di hari kiamat
dan dia banyak dzikir kepada
Alloh.” (QS. Al-Ahzab : 21). Dalam hal menyambut ‘Iedul
Fitri pun sudah selayaknya
kita mencontoh perbuatan
dan tutur kata yang telah
dilakukan oleh Rasulalloh
SAW semasa hidupnya. Di dalam salah satu hadits telah
diriwayatkan dari Jalid bin
Ma’daan berkata Jalid,
bertemu aku pada Watsilah
bin Al-Asqo’ di dalam hari
raya, maka berkata aku “Taqobbalallohu minna wa
minka.” Maka berkata
Watsilah: “Na’am,
taqobbalallohu minna wa
minka.” Berkata Watsilah,
bertemu aku pada Rasulalloh SAW pada hari raya, maka
berkata aku: “Taqobbalallohu
minna wa minka.” Maka
berkata Rasulalloh SAW:
“Na’am, taqobbalallohu minna
wa minka.” (HR. Baihaqi di dalam Kitabu Al-‘Idiin Juz 3
hal. 219). Dalam prakteknya,
taqobalallohu minna wa
minka kita ucapkan kepada
lawan bicara kita hanya satu
orang laki-laki. Jika kita
mengucapkan kepada lawan bicara yang hanya satu orang
perempuan, maka lafalnya
menjadi taqobalallohu minna
wa minki. Sedangkan jika
lawan bicara kita jumlahnya
lebih dari satu orang (jamak), maka lafalnya menjadi
taqobalallohu minna wa
minkum. Ketika saudara atau
teman kita mengucapkan hal
ini, maka kita hendaklah
menjawab dengan jawaban ucapan: Na’am, taqobalallohu
minna wa minkum/ka/ki,
tergantung pada lawan bicara
yang mengucapkan tersebut
jamak, atau tunggal laki-laki,
atau tunggal perempuan. Ucapan taqobalallohu minna
wa minkum/ka/ki tersebut
mempunyai arti kurang lebih
“semoga Alloh menerima
ibadah-ku dan ibadah-mu”
yang secara harfiah mempunyai makna
mendoakan kepada diri
sendiri dan kepada lawan
bicara, sebagai ungkapan
kesyukuran dan kegembiraan
setelah dapat menyelesaikan puasa Ramadan satu bulan
penuh. Dengan kata lain,
ucapan taqobalallohu minna
wa minkum/ka/ki secara
tersirat seharusnya
mempunyai makna yang jauh lebih dalam dari apa yang
secara tradisi telah biasa kita
ucapkan dalam menyambut
‘Iedul Fitri, antara lain:
“Selamat lebaran, mohon
maaf lahir dan batin;” atau “Selamat lebaran, nol-nol ya!”
dan ucapan-ucapan yang
semacamnya. Apalagi
mengucapkan taqobalallohu
minna wa minkum/ka/ki
merupakan salah satu sunnah Rasulalloh SAW yang
seharusnya kita praktekkan.
Terutama di zaman yang
barangkali semakin sedikit
orang yang mau dan mampu
menetapi sunnah Rasulalloh dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan akhirnya, maukah
kita tergolong sebagai umat di
akhir zaman yang masih
menegakkan As-sunnah di
kala kebanyakan orang
merasa asing dengannya atau bahkan di kala kebanyakan
orang sudah melupakannya?
Ayo kita praktekkan sunnah
Rasulalloh dengan
mengucapkan taqobalallohu
minna wa minkum/ka/ki dalam rangka menyambut
‘Iedul Fitri 1 Syawal 1431 H.
nanti. Moga-moga Alloh
menjadikan kita termasuk
golongan yang ibadah puasa
Ramadannya diterima oleh Alloh sebagaimana tersirat
dalam ucapan tersebut. (Materi Dakwah bil Qolam dari
Bagian Dakwah, DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kota
Bogor – September 2010)

Minggu, 16 Oktober 2011

Muqaddimah

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga terlimpahkan atas muhammad Rosulullah yang selalu setia terhadap ajaran dan sunnah-sunnahnya.
Selayaknya kalau kita bermukhasabah, introspeksi diri, selalu melihat kedalam pribadi kita sebelum memberi penilaian terhadap suatu masalah. Berkaca terhadap diri sendiri adalah hal bijaksana untuk kita lakukan, sebelum kita mempresisikan pada orang lain. "Karena barang siapa yang mengenal Robbnya tentu ia akan sibuk berkhidmat kepadaNya dengan meninggalkan hawa nafsunya". Hendaknya kita tidak luruh dan tersibghah dengan kondisi zaman, dan selayaknya kita tetap konsisten dengan akidah dan ke imanan yang kita miliki, konsisten terhadap keyakinan Bahwa Alloh dan Rosululloh SAW tempat segala sesuatu persoalan kita kembalikan.
Mari kita introspeksi diri dan menoleh kebelakang lagi Sudah benarkah SYAHADAT kita, sesuaikah KEIMANAN kita dengan AL QUR'AN dan AS SUNNAH (AL HADITS), Benarkah MANHAJ dan HUKUM yang kita terapkan dalam kehidupan kita, Rosululloh SAW bersabda :"Iman dan amal adalah dua saudara yang saling menemani didalam persahabatan, Alloh tidak menerima salah satu di keduanya kecuali dengan sahabatnya". (HR. Ibnu Syahiin Fissunah An Ali). "Iman itu adalah kepercayaan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan Anggota". (HR. Ibnu Majah).
"Bukankah iman itu sekedar cita-cita (angan-angan) saja, akan tetapi iman itu suatu kepercayaan yang tetap dalam hati, dan dibuktikan dengan amal perbuatan". (HR. Dailami).
Semoga Agenda ini bisa menjadikan bahan renungan untuk berinstropeksi diri tentang keimanan, tentang manhaj, ataupun sikap yang seyogyanya kita lakukan. Amin

Alhamdulilah Jaza Kumullohu Khoiron

www.generus313.blogspot.com

Kamis, 04 Agustus 2011

AL-BAHRAIN Membina Generus Melestarikan Agama Alloh

Jaman
sekarang
membina
generasi
muda
tidak dapat
dilakukan
dengan
cara-
cara
biasa, santai dan asal-asalan, harus dilakukan dengan sungguh- sungguh dan terprogram. Mengingat pengaruh lingkungan yang semakin kuat terhadap degradasi moral generasi muda, antara lain: Persaingan yang semakin ketat di berbagai bidang kehidupan menjadikan generasi muda lebih aktif mengejar status duniawi mengabaikan urusan agama Menyebarnya gaya hidup moderen yang bebas dan mengagungkan nilai materialime membuat orang tua lebih bangga anaknya sukses menjadi sarjana dari pada menjadi seorang mubaligh. Pengaruh buruk hiburan dan pornografi melalui berbagai media menjadikan generasi muda terlena dan melalaikan kewajiban ibadah dan mencari
ilmu agama. Pergaulan bebas di lingkungan dapat mengikis keimanan dan kefahaman agama generasi muda Kondisi masa depan bangsa ini tergambar dari pembinaan generasi muda saat ini. Kelalaian membina generasi muda akan berakibat semakin pudarnya nilai-nilai agama di masa depan. Untuk itu, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) kembali menurunkan penasehatnya untuk memberikan nasehat pemantapan agama kepada seluruh pengurus dan jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia Sidoarjo, 21 Mei 2011. Tema nasehat pemantapan kali ini adalah masalah membina generasi penerus, yang terdiri dari remaja dan anak-anak jamaah. Kedatangan utusan dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia Pusat ini juga merupakan bentuk konseling / bimbingan, monitoring sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan program pembinaan generasi penerus di
daerah Sidoarjo. Seperti diketahui Penggerak Pembina Generasi Penerus (PPG) merupakan program unggulan yang mendapat prioritas utama dalam Lembaga Dakwah Islam Indonesia saat ini. Sebelumnya Lembaga Dakwah Islam Indonesia telah menetapkan 5 unsur sebagai pembina generasi muda yaitu:
1. Unsur orang tua
2. Unsur mubaligh dan mubalighot
3. Ahli pendidik
4. Pengurus dan
5. Unsur Ulama PPG dibentuk sebagai usaha lebih mengkonkritkan sistem pendidikan agama secara profesional di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia. PPG bertugas merancang sistem belajar mengajar berupa, kurikulum, silabus, jurnal serta sistem evaluasi. Program-program pendidikan yang disusun oleh PPG akan menjadi pegangan bagi lima unsur untuk melakukan pembinaan dan pengajaran pada generasi muda terutama cabe rawit di setiap kelompok pengajian. Dengan adanya program belajar yang jelas diharapkan keberhasilan pembinaan generasi muda Lembaga Dakwah Islam Indonesia bisa lebih terarah dan terukur. Lembaga Dakwah Islam Indonesia menetapkan 3 target keberhasilan pembinaan genersi muda yaitu:
1. Menjadikan generasi muda yang alim (banyak ilmu agamanya)
2. Fakih beribadah dan berakhlakul karimah
3. Bisa hidup mandiri ﺎَﻳ ﺎَﻬُّﻳَﺃ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ َّﻥِﺇ ْﻦِﻣ ْﻢُﻜِﺟﺍَﻭْﺯَﺃ ْﻢُﻛِﺩﺎَﻟْﻭَﺃَﻭ ﺍًّﻭُﺪَﻋ ْﻢُﻜَﻟ ْﻢُﻫﻭُﺭَﺬْﺣﺎَﻓ ْﻥِﺇَﻭ ﺍﻮُﻔْﻌَﺗ ﺍﻮُﺤَﻔْﺼَﺗَﻭ ﺍﻭُﺮِﻔْﻐَﺗَﻭ َّﻥِﺈَﻓ َﻪَّﻠﻟﺍ ٌﺭﻮُﻔَﻏ ٌﻢﻴِﺣَﺭ (14) ﺎَﻤَّﻧِﺇ ْﻢُﻜُﻟﺍَﻮْﻣَﺃ ْﻢُﻛُﺩﺎَﻟْﻭَﺃَﻭ ٌﺔَﻨْﺘِﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ُﻩَﺪْﻨِﻋ ٌﺮْﺟَﺃ ٌﻢﻴِﻈَﻋ (15) Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak- anakmu bisa menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-
lah pahala yang besar. [Al-Quran surat At-
Taghobun ayat 14 -15] 242 - ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻦْﺑ ﻰَﻴْﺤَﻳ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻦْﺑ ِﺐْﻫَﻭ ِﻦْﺑ َﺔَّﻴِﻄَﻋ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪﻴِﻟَﻮْﻟﺍ ُﻦْﺑ ٍﻢِﻠْﺴُﻣ َﻝﺎَﻗ : ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﻕﻭُﺯْﺮَﻣ ُﻦْﺑ ﻲِﺑَﺃ ِﻞْﻳَﺬُﻬْﻟﺍ َﻝﺎَﻗ : ﻲِﻨَﺛَّﺪَﺣ ُّﻱِﺮْﻫُّﺰﻟﺍ َﻝﺎَﻗ : ﻲِﻨَﺛَّﺪَﺣ ﻮُﺑَﺃ ِﺪْﺒَﻋ ُّﺮَﻏَﺄْﻟﺍ ِﻪَّﻠﻟﺍ ، ْﻦَﻋ ﻲِﺑَﺃ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ، َﻝﺎَﻗ : َﻝﺎَﻗ ُﻝﻮُﺳَﺭ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ : » َّﻥِﺇ ﺎَّﻤِﻣ ُﻖَﺤْﻠَﻳ َﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ْﻦِﻣ ِﻪِﻠَﻤَﻋ ِﻪِﺗﺎَﻨَﺴَﺣَﻭ َﺪْﻌَﺑ ِﻪِﺗْﻮَﻣ ﺎًﻤْﻠِﻋ ُﻪَﻤَّﻠَﻋ ُﻩَﺮَﺸَﻧَﻭ ، ﺍًﺪَﻟَﻭَﻭ ﺎًﺤِﻟﺎَﺻ ُﻪَﻛَﺮَﺗ ، ﺎًﻔَﺤْﺼُﻣَﻭ ُﻪَﺛَّﺭَﻭ ، ْﻭَﺃ ُﻩﺎَﻨَﺑ ﺍًﺪِﺠْﺴَﻣ ، ْﻭَﺃ ﺎًﺘْﻴَﺑ ِﻦْﺑﺎِﻟ ِﻞﻴِﺒَّﺴﻟﺍ ُﻩﺎَﻨَﺑ ، ْﻭَﺃ ﺍًﺮْﻬَﻧ ُﻩﺍَﺮْﺟَﺃ ، ْﻭَﺃ ًﺔَﻗَﺪَﺻ ﺎَﻬَﺟَﺮْﺧَﺃ ْﻦِﻣ ِﻪِﻟﺎَﻣ ﻲِﻓ ِﻪِﺘَّﺤِﺻ ِﻪِﺗﺎَﻴَﺣَﻭ ، ُﻪُﻘَﺤْﻠَﻳ ْﻦِﻣ ِﻪِﺗْﻮَﻣ ِﺪْﻌَﺑ « ﺏﺎﺘﻜﻟﺍ ﺡﺎﺘﺘﻓﺍ ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ
ﻞﺋﺎﻀﻓﻭ ﻥﺎﻤﻳﻹﺍ ﻲﻓ
ﻢﻠﻌﻟﺍﻭ ﺔﺑﺎﺤﺼﻟﺍ ...Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya
apa-apa yang menyusul orang iman dari amalan dan kebagusan setelah ia meninggal, (adalah) ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak sholeh yang ia tinggalkan dan catatan (ilmu agama) yang
ia wariskan, atau masjid yang ia bangun atau bangunan untuk ibnu sabil (musafir), atau sungai yang ia alirkan, shodakoh yang ia keluarkan dari hartanya dalam keadaan sehat dan hidupnya (semua itu) menyusul pada orang iman setelah matinya. [Hadist Ibnu Majah No. 242
Kitab Pembukaan tentang
Iman dan keutamaan
shahabat nabi muhammad
saw dan Ilmu]

Minggu, 24 Juli 2011

Aktivitas Pengajian Majelis Ta'lim AL-BAHRAIN di bawah Naungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia

Lembaga Dakwah Islam Indonesia menyelenggarakan pengajian dengan rutinitas kegiatan yang cukup tinggi karena Al Qur’an dan Al Hadits itu merupakan bahan kajian yang cukup banyak dan luas.

Di tingkat PAC umumnya pengajian diadakan 2-3 kali seminggu, sedangkan di tingkat PC diadakan pengajian seminggu sekali.

Untuk memahamkan agama islam yang sesuai dengan Al Qur’an dan Al
Hadits, Lembaga Dakwah Islam Indonesia mempunyai program pembinaan cabe rawit (usia prasekolah sampai SD) yang terkoordinir diseluruh masjid Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Selain pengajian umum, juga ada pengajian khusus remaja dan pemuda, pengajian khusus Ibu-ibu, dan bahkan pengajian
khusus Manula/Lanjut usia.

Ada juga pengajian UNIK (usia nikah) Disamping itu ada pula pengajian secara umum kepada masyarakat yang ingin belajar Al Qur’an dan Al Hadits. Pada musim liburan sering diadakan Kegiatan Pengkhataman Al Qur’an dan Al Hadits selama beberapa hari yang biasa diikuti anak-anak warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia untuk mengisi waktu liburan mereka. Dalam pengajian ini pula diberi pemahaman kepada seluruh warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia tentang bagaimana pentingnya dan pahalanya orang yang mau belajar dan mengamalkan Al Qur’an dan Al Hadits dalam keseharian mereka.

Setiap bulan Ramadhan, terutama pada 10 hari terakhir
bulan ramadhan, seluruh masjid Lembaga Dakwah Islam Indonesia selalu penuh sesak digunakan oleh masyarakat beribadah non-stop mulai jam setengah delapan malam (sehabis sholat Isya’ ) hingga sebelum subuh (sekitar pukul setengah empat pagi) untuk mencari Lailatul Qadar.

Selasa, 19 Juli 2011

AYO KAUM WANITA !, BERBUSANA MUSLIMAH DENGAN BENAR

Dalam
pengajian
wanita
bulan
ini
dinasehatkan kembali ijtihad
para
ulama Lembaga
Dakwah Islam
tentang
tata
cara
berpakaian
kaum
wanita, ibu-
ibu
dan
remaja
putri. Ijtihad ini merupakan penegasan dan penerapan syariat Islam yang sudah ada dan dimaksudkan untuk menghidupkan peraturan agama Islam tentang tata cara berbusana Muslimah yang benar di kalangan jamaah wanita Lembaga Dakwah Islam. Dewasa ini banyak mode busana Muslimah dan tata cara berpakaian yang menarik ditawarkan, namun tidak semuanya sesuai dengan peraturan Alloh dan Rasul yang tercantum dalam Al Quran & Al Hadits. Bagi kaum wanita Muslimah, berpakaian bukanlah sekedar mengikuti mode atau tren yang berlaku di masyarakat atau hanya sekedar budaya atau kebiasaan berbusana Muslimah. Namun tata cara berpakaian merupakan bagian dari ibadah menjalankan perintah Alloh dan Rasulullah SAW yang ada sangsinya kelak di akhirat. Berpakaian Muslimah dengan benar, disamping wujud iman dan taqwa kaum wanita kepada Allah juga dapat mencegah pelanggaran dan kemaksiatan karena tubuh wanita yang menonjol akan cenderung menarik perhatian lawan jenis. Dengan menutup aurat seluruh tubuh, para perempuan akan lebih disegani dan terjaga kehormatannya. Untuk itu jamaah wanita Lembaga Dakwah Islam, diharapkan dapat memahami peraturan Alloh & Rasululloh serta ijtihad para ulama tentang tata cara berbusana yang benar menurut peraturan agama Islam agar tidak salah memilih busana Muslimah yang justru menyimpang dari ketentuan agama. Sesuai dengan tuntunan Alloh dan Rasululloh dalam Quran & Hadits , para ulama Lembaga Dakwah Islam menggariskan tata cara berpakaian yang benar bagi jamaah wanita, ibu-ibu dan remaja putri sebagai berikut:
1. Pakaian wanita Muslimah harus menutupi aurat secara baik, rapi dan sopan . Pada prinsipnya semua bagian tubuh perempuan adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangannya . Pakaian bisa menerus dari atas berupa long dress sampai menutup mata kaki. Atau pakaian bagian atas sampai lutut dan pakaian bawah berupa rok atau kulot longgar, tidak ketat sampai menutup mata kaki. ﻞُﻗَﻭ ِﺕﺎَﻨِﻣْﺆُﻤْﻠِّﻟ َﻦْﻀُﻀْﻐَﻳ ْﻦِﻣَّﻦِﻫِﺭﺎَﺼْﺑَﺃ َﻦْﻈَﻔْﺤَﻳَﻭ َّﻦُﻬَﺟﻭُﺮُﻓ ﺎَﻟَﻭ َﻦﻳِﺪْﺒُﻳ َّﻦُﻬَﺘَﻨﻳِﺯ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻣ َﺮَﻬَﻇ ﺎَﻬْﻨِﻣَﻦْﺑِﺮْﻀَﻴْﻟَﻭ َّﻦِﻫِﺮُﻤُﺨِﺑ ﻰَﻠَﻋ َّﻦِﻬِﺑﻮُﻴُﺟ ﺎَﻟَﻭ َﻦﻳِﺪْﺒُﻳ َّﻦُﻬَﺘَﻨﻳِﺯ ﺎَّﻟِﺇَّﻦِﻬِﺘَﻟﻮُﻌُﺒِﻟ ْﻭَﺃ َّﻦِﻬِﺋﺎَﺑﺁ ْﻭَﺃ ﺀﺎَﺑﺁ َّﻦِﻬِﺘَﻟﻮُﻌُﺑ ْﻭَﺃ َّﻦِﻬِﺋﺎَﻨْﺑَﺃ ْﻭَﺃ ﺀﺎَﻨْﺑَﺃ َّﻦِﻬِﺘَﻟﻮُﻌُﺑ ْﻭَﺃ َّﻦِﻬِﻧﺍَﻮْﺧِﺇ ْﻭَﺃ ﻲِﻨَﺑ َّﻦِﻬِﻧﺍَﻮْﺧِﺇ ْﻭَﺃ ﻲِﻨَﺑ َّﻦِﻬِﺗﺍَﻮَﺧَﺃ ْﻭَﺃ َّﻦِﻬِﺋﺎَﺴِﻧ ْﻭَﺃ ﺎَﻣ ْﺖَﻜَﻠَﻣ َّﻦُﻬُﻧﺎَﻤْﻳَﺃ ِﻭَﺃ َﻦﻴِﻌِﺑﺎَّﺘﻟﺍ ِﺮْﻴَﻏ ﻲِﻟْﻭُﺃ ِﺔَﺑْﺭِﺈْﻟﺍ َﻦِﻣ ِﻝﺎَﺟِّﺮﻟﺍ ِﻭَﺃ ِﻞْﻔِّﻄﻟﺍ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ْﻢَﻟ ﺍﻭُﺮَﻬْﻈَﻳ ﻰَﻠَﻋ ِﺕﺍَﺭْﻮَﻋ ﺀﺎَﺴِّﻨﻟﺍ ﺎَﻟَﻭ َﻦْﺑِﺮْﻀَﻳ َّﻦِﻬِﻠُﺟْﺭَﺄِﺑ َﻢَﻠْﻌُﻴِﻟ ﺎَﻣ َﻦﻴِﻔْﺨُﻳ ﻦِﻣ َّﻦِﻬِﺘَﻨﻳِﺯ ﺍﻮُﺑﻮُﺗَﻭ ﻰَﻟِﺇ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﺎًﻌﻴِﻤَﺟ ﺎَﻬُّﻳَﺃ َﻥﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ْﻢُﻜَّﻠَﻌَﻟ َﻥﻮُﺤِﻠْﻔُﺗ * ﺓﺭﻮﺳ ﺭﻮﻨﻟﺍ ٣١ Allah yang Maha Luhur berfirman,” Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang tampak darinya. Al Quran Surat Annur ayat 31 ﻝﺎﻗﻭ ﺶﻤﻋﻷﺍ ﻦﻋ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﺑ ﺮﻴﺒﺟ ﻦﻋ ﻦﺑﺍ ﺱﺎﺒﻋ : َﻻَﻭ َﻦﻳﺬْﺒُﻳ َّﻦُﻬَﺘَﻨﻳٍﺯ َّﻻِﺇ َﺎﻣ َﺮَﻬَﻇ ﺎَﻬْﻨِﻣ ﻝﺎﻗ : ﺎَﻬَﻬْﺟَﻭ ﺎَﻬْﻴَﻔَﻛَﻭ َﻢَﺗﺎَﺨْﻟﺍَﻭ * ﺮﻴﺜﻛ ﻦﺑﺍ ﺮﻴﺴﻔﺗ ‘Amas bercerita dari Said bin Jabbar dari Ibnu Abbas,“Janganlah mereka (para wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali yang tampak darinya”, Abbas berkata ,”Wajahnya dan kedua telapak tangannya dan cincinnya”. Tafsir Ibnu Kathir ْﻦَﻋ َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ﻲِﺿَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﺎَﻬْﻨَﻋ َّﻥﺃ ْﺄَﻤْﺳَﺃ َﺖْﻨِﺑ ﻲِﺑَﺃ ٍﺮﻜَﺑ ْﺖَﻠَﺧَﺩ ﻰَﻠَﻋ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺎَﻬْﻴَﻠَﻋَﻭ ٌﺏﺎَﻴِﺛ ٌﻖَﻗِﺭ َﺽَﺮْﻋَﺄَﻓ ﺎَﻬْﻨَﻋ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻝﺎَﻗَﻭ ﺎَﻳ ُﺀﺎَﻤْﺳَﺃ َّﻥِﺇ َﺓَﺃﺮَﻤْﻟﺍ ﺍَﺫِﺇ ْﺖَﻐَﻠَﺑ َﺾْﻴِﺤَﻤْﻟﺍ ْﻢَﻟ ْﺢُﻠْﺼَﺗ ْﻥَﺃ ﻯَﺮُﻳ ﺎَﻬْﻨِﻣ ﺎّﻟِﺇ ﺍَﺬَﻫ َﻭ ﺍَﺬَﻫ َﺭﺎَﺷَﺃَﻭ ﻰَﻟِﺇ ِﻪِﻬْﺟَﻭ ِﻪْﻴَّﻔَﻛَﻭ ’ َﻝﺎَﻗ ﻮﺑﺍ ﺩﻭﺍﺩ ﺍﺬﻫ ﻞﺳﺮﻣ ﺪﻟﺎﺧ ﻦﺑ ﻚﻳﺭُﺩ ﻢﻟ ﻙﺭﺪﻳ َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ﻲِﺿَﺭ ﺎَﻬْﻨَﻋ ﻪﻠﻟﺍ * ﺩﻭﺍﺩ ﻮﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ Dari 'Aisah radhiyallahu ‘anha,” Sesungguhnya Asma’ binti Abi Bakar masuk pada Rasulullah SAW dan dia (Asma’) memakai pakaian tipis maka Rasulullah SAW berpaling darinya dan bersabda: “Wahai Asma’, sesungguhnya wanita itu ketika sudah baligh tidak pantas (tidak boleh) terlihat darinya (anggota badannya) kecuali ini dan ini dan Nabi isyaroh pada wajah dan telapak tangannya.
Abu Dawud berkata: hadits ini mursal karena Kholid bin Darik tidak berjumpa dengan A’isah.

Keterangan : Walaupun hadits ini mursal namun muatannya (isi haditsnya) SHOHIH sesuai dengan kefahaman sahabat Ibnu 'Abaas dan sesuai dengan dalil-
dalil lain yang lebih shohih bahwa wajah dan kedua telapak tangan itu boleh kelihatan. َّﻥِﺇ َﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎّﺒَﻋ ُﻩَﺮَﺒْﺧَﺃ ّﻥَﺃ ًﺓَﺃَﺮْﻣِﺇ ْﻦِﻣ َﻢَﻌْﺜَﺧ ْﺖَﻔَﺘْﺳِﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﻲِﻓ ِﺔَّﺠَﺣ ِﻉﺍَﺩَﻮْﻟﺍ ُﻞْﻀَﻔْﻟﺍﻭ ُﻦْﺑ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ ُﻒِﻳﺩَﺭ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﺖَﻠَﻘَﻓ ﺎَﻳ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ َّﻥْﺇ َﺔَﻀْﻳِﺮَﻓ ِﻪﻠﻟﺍ ﻲِﻓ ِّﺞَﺤْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﻩِﺩﺎَﺒِﻋ ْﺖَﻛَﺭْﺩَﺃ ﻲِﺑَﺃ ﺎًﺨْﻴَﺷ ﺍًﺮْﻴِﺒَﻛ َﻻ ﻱِﻮَﺘْﺸَﻳ ﻰَﻠَﻋ ٍﺔَﻠِﺣﺍَّﺮﻟﺍ ْﻞَﻬَﻓ ْﻲَﻀْﻘَﻳ ُﻪْﻨَﻋ ْﻥَﺃ َّﺦُﺣَﺃ ؟ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻬَﻟ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻢَﻌَﻧ َﺪَﺧﺄَﻓ ُﻞْﻀَﻔﻟﺍ ُﻦْﺑ ٍﺲَﺒَﻋ ُﺖِﻔَﺘْﻠَﻳ ﺎَﻬْﻴَﻟِﺇ ِﺖَﻧﺎَﻛَﻭ ًﺓَﺃَﺮْﻣﺍ َﺀﺎَﻨْﺴَﺣ َﺪَﺧَﺃَﻭ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ُﻞْﻀَﻔْﻟﺍ َﻝَّﻮَﺤَﻓ ُﻪَﻬْﺟَﻭ َﻦِﻣ ِّﻖِّﺸﻟﺍ ِﺮﻀﺧْﻵﺍ * ﻩﺍﻭﺭ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍ ﻆﻔﻠﻟﺍﻭ ﻪﻟ ﻢﻠﺴﻣﻭ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍﻭ Sesungguhnya Ibnu ‘Abas memberi kabar kepada Sulaiman Bin Yasar bahwa ada seorang wanita dari daerah Khotsama minta fatwa kepada Rasulullohi SAW pada waktu haji wada’ (pada waktu itu Rasulullah SAW memboncengkan Fadhil Ibnu ‘Abaas), wahai Rasululloh sesungguhnya perintah wajib dari Alloh kepada hambanya tentang haji jatuh kepada bapak saya yang telah tua renta yang tidak bisa naik kendaraan, apakah saya boleh mewakili haji bapak saya tersebut? Maka Rasululloh SAW menjawab,” YA”. Maka Fadhil bin ‘Abaas melihat wanita tersebut dan wanita itu cantik. Lalu Rasululloh SAW memalingkan wajah Fadhil bun ‘Abaas ke arah yang lain. Keterangan : Hadits ini menunjukkan bahwa wanita yang bertanya itu tidak memakai cadar, sehingga sahabat Fadhil bin ‘Abaas bisa melihat kecantikannya.
2. Pakaian bersifat longgar , tidak ketat (press body ) dan tidak tampak lekuk - lekuk tubuhnya .
3. Kerudung menjuntai menutup leher , pundak dan bagian dada sedangkan lengan baju sampai pergelangan tangan .
4. Kain pakaian tidak transparan , tidak tembus pandang . CONTOH PAKAIAN WANITA MUSLIMAH YANG TIDAK BENAR DIPOSKAN *DAKWAH ISLAM , *IJTIHAD ULAMA Lembaga Dakwah Islam, Sidoarjo

Taqobalallohu Minna Wa minkum

Datangnya ‘Iedul Fitri tanggal
1 Syawal disambut
dengan suka cita oleh umat
Islam di Indonesia dan di
berbagai penjuru dunia. ‘Iedul
Fitri pada tanggal 1 Syawal telah dirayakan oleh
masyarakat muslim sebagai
wujud kesyukuran kepada
Alloh atas keberhasilan dalam
menunaikan ibadah puasa
Ramadan satu bulan penuh. Mudik lebaran merupakan
tradisi dan ritual tahunan
yang biasa dilakukan oleh
masyarakat muslim di
Indonesia dalam rangka
merayakan ‘Iedul Fitri. Kesempatan merayakan
kemenangan perjuangan yang
telah diselesaikan selama
bulan Ramadan umumnya
sekaligus dimanfaatkan
sebagai sarana untuk silaturrahim dan saling
berkunjung diantara anak
dengan orang tua dan antar
saudara serta teman-teman.
Setiap kali bertemu dengan
sanak-saudara dan teman- teman, maka: “Selamat
lebaran, mohon maaf lahir dan
batin” merupakan ucapan
yang sering kali
diperdengarkan. Meskipun
tidak ada yang salah dengan ucapan tersebut sebagai
luapan kegembiraan atas
keberhasilan menyelesaikan
puasa Ramadan.
Pertanyaannya, apakah
ucapan tersebut sesuai dengan apa yang telah dicontohkan
oleh Rasulalloh SAW? Supaya diingat, sebagai umat
muslim kita meyakini bahwa
Rasulalloh merupakan contoh
yang baik untuk ditiru dan
diteladani tingkah laku,
perbuatan dan tutur katanya. Firman Alloh di dalam Al-
Qur’an menyatakan: “
Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulalloh itu suri
teladan yang baik (yaitu) bagi
orang yang mengharap (bertemu) Alloh dan
(kebahagiaan) di hari kiamat
dan dia banyak dzikir kepada
Alloh.” (QS. Al-Ahzab:21). Dalam hal menyambut ‘Iedul
Fitri pun sudah selayaknya
kita mencontoh perbuatan
dan tutur kata yang telah
di lakukan oleh Rasulalloh
SAW semasa hidupnya. Di dalam salah satu hadits telah
diri wayatkan dari Jalid bin
Ma’daan berkata Jalid,
bertemu aku pada Watsilah
bin Al-Asqo’ di dalam hari
raya, maka berkata aku “Taqobbalallohu minna wa
minka.” Maka berkata
Watsilah: “Na’am,
taqobbalallohu minna wa
minka.” Berkata Watsilah,
bertemu aku pada Rasulalloh SAW pada hari raya, maka
berkata aku: “Taqobbalallohu
minna wa minka.” Maka
berkata Rasulalloh SAW:
“ Na’am, taqobbalallohu minna
wa minka.” (HR. Baihaqi di dalam Kitabu Al-‘Idiin Juz 3
hal. 219). Dalam prakteknya,
taqobalallohu minna wa
minka kita ucapkan kepada
lawan bicara kita hanya satu
orang laki-laki. Jika kita
mengucapkan kepada lawan bicara yang hanya satu orang
perempuan, maka lafalnya
menjadi taqobalallohu minna
wa minki. Sedangkan jika
lawan bicara kita jumlahnya
lebih dari satu orang (jamak), maka lafalnya menjadi
taqobalallohu minna wa
minkum. Ketika saudara atau
teman kita mengucapkan hal
ini, maka kita hendaklah
menjawab dengan jawaban ucapan: Na’am, taqobalallohu
minna wa minkum/ka/ki,
tergantung pada lawan bicara
yang mengucapkan tersebut
jamak, atau tunggal laki-laki,
atau tunggal perempuan. Ucapan taqobalallohu minna
wa minkum/ka/ki tersebut
mempunyai arti kurang lebih
“semoga Alloh menerima
ibadah-ku dan ibadah-mu”
yang secara harfiah mempunyai makna
mendoakan kepada diri
sendiri dan kepada lawan
bicara, sebagai ungkapan
kesyukuran dan kegembiraan
setelah dapat menyelesaikan puasa Ramadan satu bulan
penuh. Dengan kata lain,
ucapan taqobalallohu minna
wa minkum/ka/ki secara
tersirat seharusnya
mempunyai makna yang jauh lebih dalam dari apa yang
secara tradisi telah biasa kita
ucapkan dalam menyambut
‘Iedul Fitri, antara lain:
“Selamat lebaran, mohon
maaf lahir dan batin;” atau “Selamat lebaran, nol-nol ya!”
dan ucapan-ucapan yang
semacamnya. Apalagi
mengucapkan taqobalallohu
minna wa minkum/ka/ki
merupakan salah satu sunnah Rasulalloh SAW yang
seharusnya kita praktekkan.
Terutama di zaman yang
barangkali semakin sedikit
orang yang mau dan mampu
menetapi sunnah Rasulalloh dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan akhirnya, maukah
kita tergolong sebagai umat di
akhir zaman yang masih
menegakkan As-sunnah di
kala kebanyakan orang
merasa asing dengannya atau bahkan di kala kebanyakan
orang sudah melupakannya?
Ayo kita praktekkan sunnah
Rasulalloh dengan
mengucapkan taqobalallohu
minna wa minkum/ka/ki dalam rangka menyambut
‘Iedul Fitri 1 Syawal.
nanti. Moga-moga Alloh
menjadikan kita termasuk
golongan yang ibadah puasa
Ramadannya diterima oleh Alloh sebagaimana tersirat
dalam ucapan tersebut.


(Materi Dakwah bil Qolam dari
Bagian Dakwah, DPD Lembaga Dakwah Islam Kota
Bogor)

Wajibnya Menegakkan Kemurnian Agama Islam

Firman Alloh yang Maha
Luhur:
1. Quran Surat Al
Bayinah ayat 5 “Dan mereka tidak diperintah
kecuali menyembah Alloh
dengan cara memurnikan
Agama dengan niat karna
Alloh dengan condong …”.
2. Quran Surat Al Ghofar
ayat 14 “Maka menyembahlah kalian
kepada Allah dengan
memurnikan agama dengan
niat karena Alloh, walaupun
orang-orang kafir benci”.

Kemurnian Agama Islam bisa
diukur dari 3 aspek:
1. Murni pedomannya yaitu Al
Qur'an dan Al Hadits
2. Murni pengamalannya,
berdasarkan tuntunan Alloh
dan Rasulullah SAW dalam Al-
Quran dan Al-Hadist, tidak
dicampuri bid’ah, syirik,
tahyul, dan kemaksiatan/ pelanggaran
3. Murni niatnya, niat karena
Alloh; semata-mata bertujuan
ingin masuk Surga selamat
dari neraka Dalam Al Quran dan Al Hadits
telah dimuat ketentuan-
ketentuan, hukum-hukum
dan peraturan-peraturan yang
berkaitan dengan perintah
atau larangan, halal atau haram, pahala atau dosa dan
surga atau neraka. Umat Islam yang beribadah kepada Alloh dengan
berpedoman murni pada Al
Quran dan Al Hadits tidak
dicampuri dengan perbuatan
syirik, khurofat, tahayul dan
maksiat serta didasari niat karena Alloh, semata-mata
tujuan mencari Surga Alloh
dan takut akan siksa Alloh
berupa Neraka dijamin; PASTI BENAR, PASTI SAH, PASTI DITERIMA oleh
ALLOH dan PASTI MASUK SURGA

I. Murni Pedomannya :
Al Qur'an dan Al Hadits Al Qu'ran dan Al Hadits adalah
pedoman agama Islam yang
diakui oleh seluruh umat
Islam di dunia. Al Qur'an adalah firman Alloh Al Hadist adalah sunnah Rosulullah yang
terdiri dari semua ucapan dan
perbuatan Rosulullah SAW
dan semua pengakuan
terhadap ucapan dan
perbuatan para sahabat dan yang dicita-citakan oleh
Rosulullah SAW.

Firman Allah yang Maha
Luhur:
1. Quran Surat Al An’am
ayat 153 “Dan sesungguhnya ini (Alt
Quran) adalah jalanKu yang
benar maka ikutilah, dan
janganlah mengikuti setiap
jalan, maka akan tersesat
kamu sekalian dari jalan Alloh”.
2. Quran Surat Azzuhruf
ayat 43 “Maka berpegang teguhlah
dengan apa-apa yang telah
diwahyukan kepadamu
(Muhammad), sesungguhnya
engkau berada di jalan yang
benar”.
3. Quran Surat Al Hasr ayat
7 “Dan apa-apa (peraturan)
yang Rasul datang kan pada
kalian maka ambillah, dan
apa-apa yang Rasul melarang
maka jauhilah”. 4. Quran Surat An Nisa’
ayat 13 “Demikian itu undang-undang
Alloh. Barang siapa taat
kepada Alloh dan UtusanNya
(Alloh) akan memasukkannya
ke dalam Surga yang mengalir
dari sekitar Surga beberapa sungai, mereka kekal di
dalamnya. Demikian itu
keuntungan yang luar biasa
besar”. Sabda Rosulullah SAW:
1. “Aku (Nabi) telah
meninggalkan kepada kamu
sekalian dua perkara. Kalian
tidak akan tersesat (pasti
benarnya) selagi berpegang
teguh pada keduanya, yaitu Kitabillah (Al Quran) dan
Sunnah Nabi (Al Hadits)”. Hadist riwayat Malik
2. “Maka sesungguhnya ini Al
Quran ujungnya yang satu di
tangan Alloh dan ujung
satunya di tangan kalian,
maka berpegang teguhlah
pada Al Quran. Maka sesungguhnya kalian tidak
akan rusak selamanya (pasti
selamat) dan tidak akan
tersesat (pasti benar) bila
berpegang teguh pada Al
Quran”. Hadits riwayat Thobroni
3. “Mencari ilmu itu kewajiban
bagi setiap orang Islam”. Hadits riwayat Nasa’I dari
Anas bin Malik
4. “Ilmu (yang wajib di cari) itu
ada tiga, adapun selain dari
tiga itu merupakan lebihan
(tidak wajib dicari); ayat yang
muhkam (Al Quran) Sunnah
yang tegak (Al Hadits) atau ilmu faroid yang adil (ilmu
pembagian waris)”. Hadits riwayat Abu Dawud
dari Abdulloh bin U’mar
bin A’sh II. Murni Amalannya Tidak Bid’ah, Tidak Syirik,
Tidak Tahayul, Tidak berbuat
Maksiat dan dosa. Tidak Bid’ah Bid’ah menurut Imam Syaathibi adalah semua
perbuatan yang diada-adakan,
yang menyerupai syariat
Agama Islam dengan tujuan
untuk mengepolkan ibadah
kepada Allah namun tidak ada dasar hukum dalam Syariat
Agama Islam dalam Al Quran
dan Al Hadits yang
memperbolehkan. Sabda Rosulullah SAW:
1. “Dan sejelek-jeleknya perkara
(agama) adalah barunya
perkara dan semua perkara
baru dalam agama adalah
bid’ah, dan semua bid’ah itu
sesat dan semua kesesatan itu ke neraka”. Hadits riwayat Nasa’I dari
Jabir bin Abdullah
2. “Barang siapa yang
memperbaharui perkara di
dalam perkara agamaKu ini
dengan sesuatu yang tidak
ada di dalam perkara agama
(tidak ada contoh/perintah dalam Al Quran dan Al Hadits)
maka orang tersebut ditolak
amalannya”. Hadits Riwayat Bukhori
dari Aisah
3. “Alloh tidak menerima amalan
orang yang masih
mengerjakan bid’ah sampai ia
meninggalkan bid’ahnya. Hadits Ibnu Majjah dari
Abdulloh bin A’bas
4. “Sesungguhnya barang siapa
hidup setelah Aku (Nabi)
maka ia akan menjumpai
banyak perselisihan.
Maka
tetapilah sunnahKu (Nabi) dan
Sunnahnya para Kholifah yang mendapatkan petunjuk dan
benar. Berpegang teguhlah
pada sunnah-sunnah tersebut
dan gigitlah dengan gigi
geraham (pegang teguh
dengan kuat)”. Hadits Riwayat Abu
Dawud Berdasarka sabda Rasulullah
SAW di atas jelas bahwa
amalan ibadah yang tidak
didasarkan perintah Alloh dan
Rasulullah SAW, tidak ada
contoh dari Rasulullah SAW, dan tidak ada jaminan
kebenaran dari Alloh dan
Rasulullah SAW tidak diterima oleh Alloh atau ditolak dan sia-sia. Contoh-contoh amal ibadah
yang tidak termasuk bid’ah
karena ada jaminan
kebenaran dari Alloh dan
Rasulullah SAW yaitu
sunnahnya para Khulafaa’ur roosyidin , seperti: 1. Salat terawih di bulan Ramadhan merupakan sunnah
yang dibuat oleh Umar bin Khatab dan sebelumnya Nabi SAW tidak pernah
mencontohkan sholatlail
dikerjakan secara berjamaah.
2. Ustman bin Affan membuat sunnah adzan yang ketiga sebelum sholat Jum’at. yang
mana sebelumnya adzan
sebelum sholat Jum’at hanya
dua kali yaitu Adzan pertama
da Qomat sebelum sholat. Tidak Syirik Syirik adalah menyekutukan Alloh (menyamakan) Alloh
dengan apapun dalam bentuk
ucapan, amalan maupun
keyakinan. Keyakinan bahwa
ada kekuatan selain Alloh
yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia termasuk
syirik.
Termasuk perbuatan syirik
adalah: Khurofat Cerita-cerita bohong yang
dianggap benar yang tidak
ada dasarnya dalam Al Quran
dan Al Hadits. Tahayul Cerita-cerita mistis, horor hasil
angan-angan yang dijadikan
kepercayaan dan keyakinan. Firman Alloh yang Maha
Luhur:

1. Quran Surat Azzumr
ayat 65 “Dan sesungguhnya telah
diwahyukan padamu
(Muhammad) dan pada orang-
orang (para Rosul)
sebelumMu, sesungguhnya
jika engkau syirik maka amalanmu akan lebur dan
engkau tergolong orang yang
rugi”.
2. Quran Surat Al Maidah
ayat 72 “Sesungguhnya barang siapa
yang berbuat syirik pada
Alloh maka sungguh-sungguh
Alloh mengharamkan
padanya masuk Surga dan
tempat orang tersebut adalah di neraka dan tidak ada
penolong bagi orang-orang
zalim”
3. Quran Surat Al An’am
ayat 88 “Dan seandainya mereka
berbuat syirik maka niscaya
amal perbuatan mereka
lebur”.
4. Quran Surat An Nisa’
ayat 116 “Sesungguhnya Alloh tidak
akan mengampuni jika
mereka menyekutukan
padaNya ( Alloh) dan Alloh
akan mengampuni dosa-dosa
selain syirik pada orang yang dikehendaki dan barang siapa
yang menyekutukan pada
Alloh maka benar-benar dia
sesat dengan sesat yang jauh”.

III. Murni Niatnya: Karna Alloh, tujuan semata-
mata ingin masuk surga
selamat dari siksa neraka Firman Alloh yang Maha
Luhur:

1. Quran Surat Al Lail ayat
19-21 “Dan tidak ada bagi seseorang
yang dibalas dengan
kenikmatan Alloh (Surga) di
sisi Alloh. Kecuali (amalannya)
karena mencari wajah Alloh
Tuhannya yang Maha Mulya. Dan mereka akan senantiasa
berbahagia”.
2. Quran Surat Al Isro’
ayat 57 “Orang-orang yang mereka
seru itu, mereka sendiri
mencari jalan kepada Tuhan
mereka {1} siapa di antara
mereka yang lebih dekat
(kepada Alloh) dan mengharapkan rahmat-Nya
dan takut akan azab-Nya;
sesungguhnya azab Tuhan mu
adalah suatu yang (harus)
ditakuti. ”. Sabda Rosulullah SAW:
1. “Sesungguhnya Alloh tidak
akan menerima suatu amalan
kecuali amalan itu murni dan
didasari niat mencari
wajahNya (Alloh)”. [Hadits riwayat Nasa i dari
Abi Amamah]
2. “Sesungguhnya yang paling
Aku (Nabi) khawatirkan
terhadap umatku adalah
syirik pada Allah. Ingatlah
sesungguhnya tidak aku
katakan mereka menyembah matahari, rembulan atau
berhala akan tetapi beberapa
amalan yang dikerjakan
dengan niat tidak karna Alloh
dan ada keinginan lain yang
tersembunyi (samar)”. [Hadits riwayat Thobroni]
3. “Barang siapa mempelajari
suatu ilmu yang semestinya
ditujukan untuk mencari
wajah Alloh Azza wa Jalla
namun ia tidak
mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kekayaan dunia
maka dia tidak akan mencium
bau wanginya Surga pada hari
kiamat”. [Hadits riwayat Ahmad
dari Abi Huroiroh]


Di Petik dari :
www.formasa.org/kemurnian-agama-islam/