Statistik Pengunjung blog AL BAHRAIN 4

Minggu, 24 Juli 2011

Aktivitas Pengajian Majelis Ta'lim AL-BAHRAIN di bawah Naungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia

Lembaga Dakwah Islam Indonesia menyelenggarakan pengajian dengan rutinitas kegiatan yang cukup tinggi karena Al Qur’an dan Al Hadits itu merupakan bahan kajian yang cukup banyak dan luas.

Di tingkat PAC umumnya pengajian diadakan 2-3 kali seminggu, sedangkan di tingkat PC diadakan pengajian seminggu sekali.

Untuk memahamkan agama islam yang sesuai dengan Al Qur’an dan Al
Hadits, Lembaga Dakwah Islam Indonesia mempunyai program pembinaan cabe rawit (usia prasekolah sampai SD) yang terkoordinir diseluruh masjid Lembaga Dakwah Islam Indonesia. Selain pengajian umum, juga ada pengajian khusus remaja dan pemuda, pengajian khusus Ibu-ibu, dan bahkan pengajian
khusus Manula/Lanjut usia.

Ada juga pengajian UNIK (usia nikah) Disamping itu ada pula pengajian secara umum kepada masyarakat yang ingin belajar Al Qur’an dan Al Hadits. Pada musim liburan sering diadakan Kegiatan Pengkhataman Al Qur’an dan Al Hadits selama beberapa hari yang biasa diikuti anak-anak warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia untuk mengisi waktu liburan mereka. Dalam pengajian ini pula diberi pemahaman kepada seluruh warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia tentang bagaimana pentingnya dan pahalanya orang yang mau belajar dan mengamalkan Al Qur’an dan Al Hadits dalam keseharian mereka.

Setiap bulan Ramadhan, terutama pada 10 hari terakhir
bulan ramadhan, seluruh masjid Lembaga Dakwah Islam Indonesia selalu penuh sesak digunakan oleh masyarakat beribadah non-stop mulai jam setengah delapan malam (sehabis sholat Isya’ ) hingga sebelum subuh (sekitar pukul setengah empat pagi) untuk mencari Lailatul Qadar.

Selasa, 19 Juli 2011

AYO KAUM WANITA !, BERBUSANA MUSLIMAH DENGAN BENAR

Dalam
pengajian
wanita
bulan
ini
dinasehatkan kembali ijtihad
para
ulama Lembaga
Dakwah Islam
tentang
tata
cara
berpakaian
kaum
wanita, ibu-
ibu
dan
remaja
putri. Ijtihad ini merupakan penegasan dan penerapan syariat Islam yang sudah ada dan dimaksudkan untuk menghidupkan peraturan agama Islam tentang tata cara berbusana Muslimah yang benar di kalangan jamaah wanita Lembaga Dakwah Islam. Dewasa ini banyak mode busana Muslimah dan tata cara berpakaian yang menarik ditawarkan, namun tidak semuanya sesuai dengan peraturan Alloh dan Rasul yang tercantum dalam Al Quran & Al Hadits. Bagi kaum wanita Muslimah, berpakaian bukanlah sekedar mengikuti mode atau tren yang berlaku di masyarakat atau hanya sekedar budaya atau kebiasaan berbusana Muslimah. Namun tata cara berpakaian merupakan bagian dari ibadah menjalankan perintah Alloh dan Rasulullah SAW yang ada sangsinya kelak di akhirat. Berpakaian Muslimah dengan benar, disamping wujud iman dan taqwa kaum wanita kepada Allah juga dapat mencegah pelanggaran dan kemaksiatan karena tubuh wanita yang menonjol akan cenderung menarik perhatian lawan jenis. Dengan menutup aurat seluruh tubuh, para perempuan akan lebih disegani dan terjaga kehormatannya. Untuk itu jamaah wanita Lembaga Dakwah Islam, diharapkan dapat memahami peraturan Alloh & Rasululloh serta ijtihad para ulama tentang tata cara berbusana yang benar menurut peraturan agama Islam agar tidak salah memilih busana Muslimah yang justru menyimpang dari ketentuan agama. Sesuai dengan tuntunan Alloh dan Rasululloh dalam Quran & Hadits , para ulama Lembaga Dakwah Islam menggariskan tata cara berpakaian yang benar bagi jamaah wanita, ibu-ibu dan remaja putri sebagai berikut:
1. Pakaian wanita Muslimah harus menutupi aurat secara baik, rapi dan sopan . Pada prinsipnya semua bagian tubuh perempuan adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangannya . Pakaian bisa menerus dari atas berupa long dress sampai menutup mata kaki. Atau pakaian bagian atas sampai lutut dan pakaian bawah berupa rok atau kulot longgar, tidak ketat sampai menutup mata kaki. ﻞُﻗَﻭ ِﺕﺎَﻨِﻣْﺆُﻤْﻠِّﻟ َﻦْﻀُﻀْﻐَﻳ ْﻦِﻣَّﻦِﻫِﺭﺎَﺼْﺑَﺃ َﻦْﻈَﻔْﺤَﻳَﻭ َّﻦُﻬَﺟﻭُﺮُﻓ ﺎَﻟَﻭ َﻦﻳِﺪْﺒُﻳ َّﻦُﻬَﺘَﻨﻳِﺯ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻣ َﺮَﻬَﻇ ﺎَﻬْﻨِﻣَﻦْﺑِﺮْﻀَﻴْﻟَﻭ َّﻦِﻫِﺮُﻤُﺨِﺑ ﻰَﻠَﻋ َّﻦِﻬِﺑﻮُﻴُﺟ ﺎَﻟَﻭ َﻦﻳِﺪْﺒُﻳ َّﻦُﻬَﺘَﻨﻳِﺯ ﺎَّﻟِﺇَّﻦِﻬِﺘَﻟﻮُﻌُﺒِﻟ ْﻭَﺃ َّﻦِﻬِﺋﺎَﺑﺁ ْﻭَﺃ ﺀﺎَﺑﺁ َّﻦِﻬِﺘَﻟﻮُﻌُﺑ ْﻭَﺃ َّﻦِﻬِﺋﺎَﻨْﺑَﺃ ْﻭَﺃ ﺀﺎَﻨْﺑَﺃ َّﻦِﻬِﺘَﻟﻮُﻌُﺑ ْﻭَﺃ َّﻦِﻬِﻧﺍَﻮْﺧِﺇ ْﻭَﺃ ﻲِﻨَﺑ َّﻦِﻬِﻧﺍَﻮْﺧِﺇ ْﻭَﺃ ﻲِﻨَﺑ َّﻦِﻬِﺗﺍَﻮَﺧَﺃ ْﻭَﺃ َّﻦِﻬِﺋﺎَﺴِﻧ ْﻭَﺃ ﺎَﻣ ْﺖَﻜَﻠَﻣ َّﻦُﻬُﻧﺎَﻤْﻳَﺃ ِﻭَﺃ َﻦﻴِﻌِﺑﺎَّﺘﻟﺍ ِﺮْﻴَﻏ ﻲِﻟْﻭُﺃ ِﺔَﺑْﺭِﺈْﻟﺍ َﻦِﻣ ِﻝﺎَﺟِّﺮﻟﺍ ِﻭَﺃ ِﻞْﻔِّﻄﻟﺍ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ْﻢَﻟ ﺍﻭُﺮَﻬْﻈَﻳ ﻰَﻠَﻋ ِﺕﺍَﺭْﻮَﻋ ﺀﺎَﺴِّﻨﻟﺍ ﺎَﻟَﻭ َﻦْﺑِﺮْﻀَﻳ َّﻦِﻬِﻠُﺟْﺭَﺄِﺑ َﻢَﻠْﻌُﻴِﻟ ﺎَﻣ َﻦﻴِﻔْﺨُﻳ ﻦِﻣ َّﻦِﻬِﺘَﻨﻳِﺯ ﺍﻮُﺑﻮُﺗَﻭ ﻰَﻟِﺇ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﺎًﻌﻴِﻤَﺟ ﺎَﻬُّﻳَﺃ َﻥﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ْﻢُﻜَّﻠَﻌَﻟ َﻥﻮُﺤِﻠْﻔُﺗ * ﺓﺭﻮﺳ ﺭﻮﻨﻟﺍ ٣١ Allah yang Maha Luhur berfirman,” Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang tampak darinya. Al Quran Surat Annur ayat 31 ﻝﺎﻗﻭ ﺶﻤﻋﻷﺍ ﻦﻋ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﺑ ﺮﻴﺒﺟ ﻦﻋ ﻦﺑﺍ ﺱﺎﺒﻋ : َﻻَﻭ َﻦﻳﺬْﺒُﻳ َّﻦُﻬَﺘَﻨﻳٍﺯ َّﻻِﺇ َﺎﻣ َﺮَﻬَﻇ ﺎَﻬْﻨِﻣ ﻝﺎﻗ : ﺎَﻬَﻬْﺟَﻭ ﺎَﻬْﻴَﻔَﻛَﻭ َﻢَﺗﺎَﺨْﻟﺍَﻭ * ﺮﻴﺜﻛ ﻦﺑﺍ ﺮﻴﺴﻔﺗ ‘Amas bercerita dari Said bin Jabbar dari Ibnu Abbas,“Janganlah mereka (para wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali yang tampak darinya”, Abbas berkata ,”Wajahnya dan kedua telapak tangannya dan cincinnya”. Tafsir Ibnu Kathir ْﻦَﻋ َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ﻲِﺿَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﺎَﻬْﻨَﻋ َّﻥﺃ ْﺄَﻤْﺳَﺃ َﺖْﻨِﺑ ﻲِﺑَﺃ ٍﺮﻜَﺑ ْﺖَﻠَﺧَﺩ ﻰَﻠَﻋ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﺎَﻬْﻴَﻠَﻋَﻭ ٌﺏﺎَﻴِﺛ ٌﻖَﻗِﺭ َﺽَﺮْﻋَﺄَﻓ ﺎَﻬْﻨَﻋ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ َﻝﺎَﻗَﻭ ﺎَﻳ ُﺀﺎَﻤْﺳَﺃ َّﻥِﺇ َﺓَﺃﺮَﻤْﻟﺍ ﺍَﺫِﺇ ْﺖَﻐَﻠَﺑ َﺾْﻴِﺤَﻤْﻟﺍ ْﻢَﻟ ْﺢُﻠْﺼَﺗ ْﻥَﺃ ﻯَﺮُﻳ ﺎَﻬْﻨِﻣ ﺎّﻟِﺇ ﺍَﺬَﻫ َﻭ ﺍَﺬَﻫ َﺭﺎَﺷَﺃَﻭ ﻰَﻟِﺇ ِﻪِﻬْﺟَﻭ ِﻪْﻴَّﻔَﻛَﻭ ’ َﻝﺎَﻗ ﻮﺑﺍ ﺩﻭﺍﺩ ﺍﺬﻫ ﻞﺳﺮﻣ ﺪﻟﺎﺧ ﻦﺑ ﻚﻳﺭُﺩ ﻢﻟ ﻙﺭﺪﻳ َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ﻲِﺿَﺭ ﺎَﻬْﻨَﻋ ﻪﻠﻟﺍ * ﺩﻭﺍﺩ ﻮﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ Dari 'Aisah radhiyallahu ‘anha,” Sesungguhnya Asma’ binti Abi Bakar masuk pada Rasulullah SAW dan dia (Asma’) memakai pakaian tipis maka Rasulullah SAW berpaling darinya dan bersabda: “Wahai Asma’, sesungguhnya wanita itu ketika sudah baligh tidak pantas (tidak boleh) terlihat darinya (anggota badannya) kecuali ini dan ini dan Nabi isyaroh pada wajah dan telapak tangannya.
Abu Dawud berkata: hadits ini mursal karena Kholid bin Darik tidak berjumpa dengan A’isah.

Keterangan : Walaupun hadits ini mursal namun muatannya (isi haditsnya) SHOHIH sesuai dengan kefahaman sahabat Ibnu 'Abaas dan sesuai dengan dalil-
dalil lain yang lebih shohih bahwa wajah dan kedua telapak tangan itu boleh kelihatan. َّﻥِﺇ َﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎّﺒَﻋ ُﻩَﺮَﺒْﺧَﺃ ّﻥَﺃ ًﺓَﺃَﺮْﻣِﺇ ْﻦِﻣ َﻢَﻌْﺜَﺧ ْﺖَﻔَﺘْﺳِﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﻲِﻓ ِﺔَّﺠَﺣ ِﻉﺍَﺩَﻮْﻟﺍ ُﻞْﻀَﻔْﻟﺍﻭ ُﻦْﺑ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ ُﻒِﻳﺩَﺭ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﺖَﻠَﻘَﻓ ﺎَﻳ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ َّﻥْﺇ َﺔَﻀْﻳِﺮَﻓ ِﻪﻠﻟﺍ ﻲِﻓ ِّﺞَﺤْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﻩِﺩﺎَﺒِﻋ ْﺖَﻛَﺭْﺩَﺃ ﻲِﺑَﺃ ﺎًﺨْﻴَﺷ ﺍًﺮْﻴِﺒَﻛ َﻻ ﻱِﻮَﺘْﺸَﻳ ﻰَﻠَﻋ ٍﺔَﻠِﺣﺍَّﺮﻟﺍ ْﻞَﻬَﻓ ْﻲَﻀْﻘَﻳ ُﻪْﻨَﻋ ْﻥَﺃ َّﺦُﺣَﺃ ؟ُﻪْﻨَﻋ َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻬَﻟ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻢَﻌَﻧ َﺪَﺧﺄَﻓ ُﻞْﻀَﻔﻟﺍ ُﻦْﺑ ٍﺲَﺒَﻋ ُﺖِﻔَﺘْﻠَﻳ ﺎَﻬْﻴَﻟِﺇ ِﺖَﻧﺎَﻛَﻭ ًﺓَﺃَﺮْﻣﺍ َﺀﺎَﻨْﺴَﺣ َﺪَﺧَﺃَﻭ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ُﻞْﻀَﻔْﻟﺍ َﻝَّﻮَﺤَﻓ ُﻪَﻬْﺟَﻭ َﻦِﻣ ِّﻖِّﺸﻟﺍ ِﺮﻀﺧْﻵﺍ * ﻩﺍﻭﺭ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍ ﻆﻔﻠﻟﺍﻭ ﻪﻟ ﻢﻠﺴﻣﻭ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍﻭ Sesungguhnya Ibnu ‘Abas memberi kabar kepada Sulaiman Bin Yasar bahwa ada seorang wanita dari daerah Khotsama minta fatwa kepada Rasulullohi SAW pada waktu haji wada’ (pada waktu itu Rasulullah SAW memboncengkan Fadhil Ibnu ‘Abaas), wahai Rasululloh sesungguhnya perintah wajib dari Alloh kepada hambanya tentang haji jatuh kepada bapak saya yang telah tua renta yang tidak bisa naik kendaraan, apakah saya boleh mewakili haji bapak saya tersebut? Maka Rasululloh SAW menjawab,” YA”. Maka Fadhil bin ‘Abaas melihat wanita tersebut dan wanita itu cantik. Lalu Rasululloh SAW memalingkan wajah Fadhil bun ‘Abaas ke arah yang lain. Keterangan : Hadits ini menunjukkan bahwa wanita yang bertanya itu tidak memakai cadar, sehingga sahabat Fadhil bin ‘Abaas bisa melihat kecantikannya.
2. Pakaian bersifat longgar , tidak ketat (press body ) dan tidak tampak lekuk - lekuk tubuhnya .
3. Kerudung menjuntai menutup leher , pundak dan bagian dada sedangkan lengan baju sampai pergelangan tangan .
4. Kain pakaian tidak transparan , tidak tembus pandang . CONTOH PAKAIAN WANITA MUSLIMAH YANG TIDAK BENAR DIPOSKAN *DAKWAH ISLAM , *IJTIHAD ULAMA Lembaga Dakwah Islam, Sidoarjo

Taqobalallohu Minna Wa minkum

Datangnya ‘Iedul Fitri tanggal
1 Syawal disambut
dengan suka cita oleh umat
Islam di Indonesia dan di
berbagai penjuru dunia. ‘Iedul
Fitri pada tanggal 1 Syawal telah dirayakan oleh
masyarakat muslim sebagai
wujud kesyukuran kepada
Alloh atas keberhasilan dalam
menunaikan ibadah puasa
Ramadan satu bulan penuh. Mudik lebaran merupakan
tradisi dan ritual tahunan
yang biasa dilakukan oleh
masyarakat muslim di
Indonesia dalam rangka
merayakan ‘Iedul Fitri. Kesempatan merayakan
kemenangan perjuangan yang
telah diselesaikan selama
bulan Ramadan umumnya
sekaligus dimanfaatkan
sebagai sarana untuk silaturrahim dan saling
berkunjung diantara anak
dengan orang tua dan antar
saudara serta teman-teman.
Setiap kali bertemu dengan
sanak-saudara dan teman- teman, maka: “Selamat
lebaran, mohon maaf lahir dan
batin” merupakan ucapan
yang sering kali
diperdengarkan. Meskipun
tidak ada yang salah dengan ucapan tersebut sebagai
luapan kegembiraan atas
keberhasilan menyelesaikan
puasa Ramadan.
Pertanyaannya, apakah
ucapan tersebut sesuai dengan apa yang telah dicontohkan
oleh Rasulalloh SAW? Supaya diingat, sebagai umat
muslim kita meyakini bahwa
Rasulalloh merupakan contoh
yang baik untuk ditiru dan
diteladani tingkah laku,
perbuatan dan tutur katanya. Firman Alloh di dalam Al-
Qur’an menyatakan: “
Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulalloh itu suri
teladan yang baik (yaitu) bagi
orang yang mengharap (bertemu) Alloh dan
(kebahagiaan) di hari kiamat
dan dia banyak dzikir kepada
Alloh.” (QS. Al-Ahzab:21). Dalam hal menyambut ‘Iedul
Fitri pun sudah selayaknya
kita mencontoh perbuatan
dan tutur kata yang telah
di lakukan oleh Rasulalloh
SAW semasa hidupnya. Di dalam salah satu hadits telah
diri wayatkan dari Jalid bin
Ma’daan berkata Jalid,
bertemu aku pada Watsilah
bin Al-Asqo’ di dalam hari
raya, maka berkata aku “Taqobbalallohu minna wa
minka.” Maka berkata
Watsilah: “Na’am,
taqobbalallohu minna wa
minka.” Berkata Watsilah,
bertemu aku pada Rasulalloh SAW pada hari raya, maka
berkata aku: “Taqobbalallohu
minna wa minka.” Maka
berkata Rasulalloh SAW:
“ Na’am, taqobbalallohu minna
wa minka.” (HR. Baihaqi di dalam Kitabu Al-‘Idiin Juz 3
hal. 219). Dalam prakteknya,
taqobalallohu minna wa
minka kita ucapkan kepada
lawan bicara kita hanya satu
orang laki-laki. Jika kita
mengucapkan kepada lawan bicara yang hanya satu orang
perempuan, maka lafalnya
menjadi taqobalallohu minna
wa minki. Sedangkan jika
lawan bicara kita jumlahnya
lebih dari satu orang (jamak), maka lafalnya menjadi
taqobalallohu minna wa
minkum. Ketika saudara atau
teman kita mengucapkan hal
ini, maka kita hendaklah
menjawab dengan jawaban ucapan: Na’am, taqobalallohu
minna wa minkum/ka/ki,
tergantung pada lawan bicara
yang mengucapkan tersebut
jamak, atau tunggal laki-laki,
atau tunggal perempuan. Ucapan taqobalallohu minna
wa minkum/ka/ki tersebut
mempunyai arti kurang lebih
“semoga Alloh menerima
ibadah-ku dan ibadah-mu”
yang secara harfiah mempunyai makna
mendoakan kepada diri
sendiri dan kepada lawan
bicara, sebagai ungkapan
kesyukuran dan kegembiraan
setelah dapat menyelesaikan puasa Ramadan satu bulan
penuh. Dengan kata lain,
ucapan taqobalallohu minna
wa minkum/ka/ki secara
tersirat seharusnya
mempunyai makna yang jauh lebih dalam dari apa yang
secara tradisi telah biasa kita
ucapkan dalam menyambut
‘Iedul Fitri, antara lain:
“Selamat lebaran, mohon
maaf lahir dan batin;” atau “Selamat lebaran, nol-nol ya!”
dan ucapan-ucapan yang
semacamnya. Apalagi
mengucapkan taqobalallohu
minna wa minkum/ka/ki
merupakan salah satu sunnah Rasulalloh SAW yang
seharusnya kita praktekkan.
Terutama di zaman yang
barangkali semakin sedikit
orang yang mau dan mampu
menetapi sunnah Rasulalloh dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan akhirnya, maukah
kita tergolong sebagai umat di
akhir zaman yang masih
menegakkan As-sunnah di
kala kebanyakan orang
merasa asing dengannya atau bahkan di kala kebanyakan
orang sudah melupakannya?
Ayo kita praktekkan sunnah
Rasulalloh dengan
mengucapkan taqobalallohu
minna wa minkum/ka/ki dalam rangka menyambut
‘Iedul Fitri 1 Syawal.
nanti. Moga-moga Alloh
menjadikan kita termasuk
golongan yang ibadah puasa
Ramadannya diterima oleh Alloh sebagaimana tersirat
dalam ucapan tersebut.


(Materi Dakwah bil Qolam dari
Bagian Dakwah, DPD Lembaga Dakwah Islam Kota
Bogor)

Wajibnya Menegakkan Kemurnian Agama Islam

Firman Alloh yang Maha
Luhur:
1. Quran Surat Al
Bayinah ayat 5 “Dan mereka tidak diperintah
kecuali menyembah Alloh
dengan cara memurnikan
Agama dengan niat karna
Alloh dengan condong …”.
2. Quran Surat Al Ghofar
ayat 14 “Maka menyembahlah kalian
kepada Allah dengan
memurnikan agama dengan
niat karena Alloh, walaupun
orang-orang kafir benci”.

Kemurnian Agama Islam bisa
diukur dari 3 aspek:
1. Murni pedomannya yaitu Al
Qur'an dan Al Hadits
2. Murni pengamalannya,
berdasarkan tuntunan Alloh
dan Rasulullah SAW dalam Al-
Quran dan Al-Hadist, tidak
dicampuri bid’ah, syirik,
tahyul, dan kemaksiatan/ pelanggaran
3. Murni niatnya, niat karena
Alloh; semata-mata bertujuan
ingin masuk Surga selamat
dari neraka Dalam Al Quran dan Al Hadits
telah dimuat ketentuan-
ketentuan, hukum-hukum
dan peraturan-peraturan yang
berkaitan dengan perintah
atau larangan, halal atau haram, pahala atau dosa dan
surga atau neraka. Umat Islam yang beribadah kepada Alloh dengan
berpedoman murni pada Al
Quran dan Al Hadits tidak
dicampuri dengan perbuatan
syirik, khurofat, tahayul dan
maksiat serta didasari niat karena Alloh, semata-mata
tujuan mencari Surga Alloh
dan takut akan siksa Alloh
berupa Neraka dijamin; PASTI BENAR, PASTI SAH, PASTI DITERIMA oleh
ALLOH dan PASTI MASUK SURGA

I. Murni Pedomannya :
Al Qur'an dan Al Hadits Al Qu'ran dan Al Hadits adalah
pedoman agama Islam yang
diakui oleh seluruh umat
Islam di dunia. Al Qur'an adalah firman Alloh Al Hadist adalah sunnah Rosulullah yang
terdiri dari semua ucapan dan
perbuatan Rosulullah SAW
dan semua pengakuan
terhadap ucapan dan
perbuatan para sahabat dan yang dicita-citakan oleh
Rosulullah SAW.

Firman Allah yang Maha
Luhur:
1. Quran Surat Al An’am
ayat 153 “Dan sesungguhnya ini (Alt
Quran) adalah jalanKu yang
benar maka ikutilah, dan
janganlah mengikuti setiap
jalan, maka akan tersesat
kamu sekalian dari jalan Alloh”.
2. Quran Surat Azzuhruf
ayat 43 “Maka berpegang teguhlah
dengan apa-apa yang telah
diwahyukan kepadamu
(Muhammad), sesungguhnya
engkau berada di jalan yang
benar”.
3. Quran Surat Al Hasr ayat
7 “Dan apa-apa (peraturan)
yang Rasul datang kan pada
kalian maka ambillah, dan
apa-apa yang Rasul melarang
maka jauhilah”. 4. Quran Surat An Nisa’
ayat 13 “Demikian itu undang-undang
Alloh. Barang siapa taat
kepada Alloh dan UtusanNya
(Alloh) akan memasukkannya
ke dalam Surga yang mengalir
dari sekitar Surga beberapa sungai, mereka kekal di
dalamnya. Demikian itu
keuntungan yang luar biasa
besar”. Sabda Rosulullah SAW:
1. “Aku (Nabi) telah
meninggalkan kepada kamu
sekalian dua perkara. Kalian
tidak akan tersesat (pasti
benarnya) selagi berpegang
teguh pada keduanya, yaitu Kitabillah (Al Quran) dan
Sunnah Nabi (Al Hadits)”. Hadist riwayat Malik
2. “Maka sesungguhnya ini Al
Quran ujungnya yang satu di
tangan Alloh dan ujung
satunya di tangan kalian,
maka berpegang teguhlah
pada Al Quran. Maka sesungguhnya kalian tidak
akan rusak selamanya (pasti
selamat) dan tidak akan
tersesat (pasti benar) bila
berpegang teguh pada Al
Quran”. Hadits riwayat Thobroni
3. “Mencari ilmu itu kewajiban
bagi setiap orang Islam”. Hadits riwayat Nasa’I dari
Anas bin Malik
4. “Ilmu (yang wajib di cari) itu
ada tiga, adapun selain dari
tiga itu merupakan lebihan
(tidak wajib dicari); ayat yang
muhkam (Al Quran) Sunnah
yang tegak (Al Hadits) atau ilmu faroid yang adil (ilmu
pembagian waris)”. Hadits riwayat Abu Dawud
dari Abdulloh bin U’mar
bin A’sh II. Murni Amalannya Tidak Bid’ah, Tidak Syirik,
Tidak Tahayul, Tidak berbuat
Maksiat dan dosa. Tidak Bid’ah Bid’ah menurut Imam Syaathibi adalah semua
perbuatan yang diada-adakan,
yang menyerupai syariat
Agama Islam dengan tujuan
untuk mengepolkan ibadah
kepada Allah namun tidak ada dasar hukum dalam Syariat
Agama Islam dalam Al Quran
dan Al Hadits yang
memperbolehkan. Sabda Rosulullah SAW:
1. “Dan sejelek-jeleknya perkara
(agama) adalah barunya
perkara dan semua perkara
baru dalam agama adalah
bid’ah, dan semua bid’ah itu
sesat dan semua kesesatan itu ke neraka”. Hadits riwayat Nasa’I dari
Jabir bin Abdullah
2. “Barang siapa yang
memperbaharui perkara di
dalam perkara agamaKu ini
dengan sesuatu yang tidak
ada di dalam perkara agama
(tidak ada contoh/perintah dalam Al Quran dan Al Hadits)
maka orang tersebut ditolak
amalannya”. Hadits Riwayat Bukhori
dari Aisah
3. “Alloh tidak menerima amalan
orang yang masih
mengerjakan bid’ah sampai ia
meninggalkan bid’ahnya. Hadits Ibnu Majjah dari
Abdulloh bin A’bas
4. “Sesungguhnya barang siapa
hidup setelah Aku (Nabi)
maka ia akan menjumpai
banyak perselisihan.
Maka
tetapilah sunnahKu (Nabi) dan
Sunnahnya para Kholifah yang mendapatkan petunjuk dan
benar. Berpegang teguhlah
pada sunnah-sunnah tersebut
dan gigitlah dengan gigi
geraham (pegang teguh
dengan kuat)”. Hadits Riwayat Abu
Dawud Berdasarka sabda Rasulullah
SAW di atas jelas bahwa
amalan ibadah yang tidak
didasarkan perintah Alloh dan
Rasulullah SAW, tidak ada
contoh dari Rasulullah SAW, dan tidak ada jaminan
kebenaran dari Alloh dan
Rasulullah SAW tidak diterima oleh Alloh atau ditolak dan sia-sia. Contoh-contoh amal ibadah
yang tidak termasuk bid’ah
karena ada jaminan
kebenaran dari Alloh dan
Rasulullah SAW yaitu
sunnahnya para Khulafaa’ur roosyidin , seperti: 1. Salat terawih di bulan Ramadhan merupakan sunnah
yang dibuat oleh Umar bin Khatab dan sebelumnya Nabi SAW tidak pernah
mencontohkan sholatlail
dikerjakan secara berjamaah.
2. Ustman bin Affan membuat sunnah adzan yang ketiga sebelum sholat Jum’at. yang
mana sebelumnya adzan
sebelum sholat Jum’at hanya
dua kali yaitu Adzan pertama
da Qomat sebelum sholat. Tidak Syirik Syirik adalah menyekutukan Alloh (menyamakan) Alloh
dengan apapun dalam bentuk
ucapan, amalan maupun
keyakinan. Keyakinan bahwa
ada kekuatan selain Alloh
yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia termasuk
syirik.
Termasuk perbuatan syirik
adalah: Khurofat Cerita-cerita bohong yang
dianggap benar yang tidak
ada dasarnya dalam Al Quran
dan Al Hadits. Tahayul Cerita-cerita mistis, horor hasil
angan-angan yang dijadikan
kepercayaan dan keyakinan. Firman Alloh yang Maha
Luhur:

1. Quran Surat Azzumr
ayat 65 “Dan sesungguhnya telah
diwahyukan padamu
(Muhammad) dan pada orang-
orang (para Rosul)
sebelumMu, sesungguhnya
jika engkau syirik maka amalanmu akan lebur dan
engkau tergolong orang yang
rugi”.
2. Quran Surat Al Maidah
ayat 72 “Sesungguhnya barang siapa
yang berbuat syirik pada
Alloh maka sungguh-sungguh
Alloh mengharamkan
padanya masuk Surga dan
tempat orang tersebut adalah di neraka dan tidak ada
penolong bagi orang-orang
zalim”
3. Quran Surat Al An’am
ayat 88 “Dan seandainya mereka
berbuat syirik maka niscaya
amal perbuatan mereka
lebur”.
4. Quran Surat An Nisa’
ayat 116 “Sesungguhnya Alloh tidak
akan mengampuni jika
mereka menyekutukan
padaNya ( Alloh) dan Alloh
akan mengampuni dosa-dosa
selain syirik pada orang yang dikehendaki dan barang siapa
yang menyekutukan pada
Alloh maka benar-benar dia
sesat dengan sesat yang jauh”.

III. Murni Niatnya: Karna Alloh, tujuan semata-
mata ingin masuk surga
selamat dari siksa neraka Firman Alloh yang Maha
Luhur:

1. Quran Surat Al Lail ayat
19-21 “Dan tidak ada bagi seseorang
yang dibalas dengan
kenikmatan Alloh (Surga) di
sisi Alloh. Kecuali (amalannya)
karena mencari wajah Alloh
Tuhannya yang Maha Mulya. Dan mereka akan senantiasa
berbahagia”.
2. Quran Surat Al Isro’
ayat 57 “Orang-orang yang mereka
seru itu, mereka sendiri
mencari jalan kepada Tuhan
mereka {1} siapa di antara
mereka yang lebih dekat
(kepada Alloh) dan mengharapkan rahmat-Nya
dan takut akan azab-Nya;
sesungguhnya azab Tuhan mu
adalah suatu yang (harus)
ditakuti. ”. Sabda Rosulullah SAW:
1. “Sesungguhnya Alloh tidak
akan menerima suatu amalan
kecuali amalan itu murni dan
didasari niat mencari
wajahNya (Alloh)”. [Hadits riwayat Nasa i dari
Abi Amamah]
2. “Sesungguhnya yang paling
Aku (Nabi) khawatirkan
terhadap umatku adalah
syirik pada Allah. Ingatlah
sesungguhnya tidak aku
katakan mereka menyembah matahari, rembulan atau
berhala akan tetapi beberapa
amalan yang dikerjakan
dengan niat tidak karna Alloh
dan ada keinginan lain yang
tersembunyi (samar)”. [Hadits riwayat Thobroni]
3. “Barang siapa mempelajari
suatu ilmu yang semestinya
ditujukan untuk mencari
wajah Alloh Azza wa Jalla
namun ia tidak
mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kekayaan dunia
maka dia tidak akan mencium
bau wanginya Surga pada hari
kiamat”. [Hadits riwayat Ahmad
dari Abi Huroiroh]


Di Petik dari :
www.formasa.org/kemurnian-agama-islam/