Statistik Pengunjung blog AL BAHRAIN 4
Senin, 22 Oktober 2012
LDII Hadiri Munas Hisab Rukyat
rb)
ldii hadiri munas hisab rukyatMemenuhi undangan dari Kepala Badan Litbang Kemenag RI, DPP LDII menghadiri Musyawarah Nasional Hisab Rukyat (Penentuan awal bulan Qomariyah). Munas ini dihadiri oleh Pakar, Instansi Pemerintah dan Ormas Islam serta kalangan pesantren di Indonesia.
Acara yang dilaksanakan pada Rabu 25 April tersebut dibuka langsung oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Suryadharma Ali, dengan pengantar dari Kabalitbang dan Diklat Kemenag, Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA yang juga telah dilantik menjadi Dirjen Bimas Islam Kemenag RI.
Dalam acara ini, DPP LDII mengutus KH. Aceng Karimullah, Ketua Departemen Pendidikan Agama dan Dakwah (PAD) DPP LDII. Hadir bersama Kyai Aceng antara lain utusan dari MUI, PBNU, PP Muhammadiyah, Presidium ICMI Pusat, FPI, PP Persis dan PB Al Irsyad serta 23 perwakilan dari Ormas dan Pondok Pesantren yang diundang.
Materi munas antara lain membahas Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal dalam Perspektif Hisab Rukyat yang menampilkan pembicara dari Laboratorium Boscha ITB, Planetarium Jakarta, PBNU dan PP Muhammadiyah. Selain itu juga dibahas mengenai Solusi Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal dalam perspektif Sosial dengan pembicara antara lain KH. Ma'ruf Amin dari MUI Pusat. (
Jumat, 12 Oktober 2012
Kemendagri-LDII sepakat bentuk forum ormas
Jakarta (ANTARA
News) - Lembaga Dakwa Islam Indonesia (LDII) mengusulkan kepada
Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) untuk membentuk forum Ormas guna
membantu pemerintah untuk mensukseskan program pembangunan di Indonesia.
Ketua DPP LDII Ir Prasetyo Sunaryo mengaku usulan tersebut didasari dengan masih adanya ormas-ormas yang terkotak-kotak di daerah dan sering terjadi gesekan yang berujung pada anarkisme. Untuk itu, DPP LDII menilai alangkah baiknya ormas tersebut di diwadahi dalam forum Ormas sesuai dengan kegiatan yang mereka lakukan.
"Kalau yang melakukan kegiatan sosial bisa masuk dalam forum sosial, lingkungan dan seterusnya. Sehingga Kemendagri bisa melakukan pembinaan dan pemberdayaan mereka," kata Prasetyo seusai bertemu Mendagri Gamawan Fauzi di Jakarta, Jumat.
Presetyo menjelaskan pemberdayaan ormas dalam berbasis kegiatan yang dilakukan ini akan meningkatkan peran serta masyarakat dan ormas yang bersangkutan sehingga dapat meminimalisir gesekan yang sering terjadi.
"Ini sangat penting untuk mendorong keikutsertaan ormas dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat," katanya.
Saat ini, pemerintah tengah menyusun UU Keormasan, Prasetyo berharap jika Forum Keormasan tersebut dapat terbentuk setelah Undang-Undang disyahkan. "Ini sangat penting agar diantara ormas bisa saling tukar menukar pengalaman dalam pengabdian kepada masyarakat," ujarnya.
Disisi lain, LDII juga meminta pemerintah untuk memberikan aturan yang jelas mengenai hubungannya dengan seluruh Ormas sehingga pemerintah tidak lagi canggung dalam melakukan pembinaan. "Hubungan yang jelas antara pemerintah dan Ormas tersebut harus masuk dalam Undang-Undang yang tengah dibahas antara pemerintah dengan DPR saat ini," tegasnya.
Ketika menanggapi hal tersebut, Mendagri Gamawan Fauzi segera membentuk tim untuk melakukan pengkajian dan penklusteran terlebih dahulu kepada ormas yang ada Indonesia berdasarkan dengan kegiatan yang mereka lakukan di masyarakat.
"Apa yang akan dilakukan oleh Kemendagri, LDII siap untuk membantu proses tersebut, sehingga seluruh Ormas yang ada di Indonesia bisa terkoneksi satu sama lain yang pada akhir bisa meningkatkan pemberdayaan masyarakat," kata Prasetyo.
Sebelumnya LDII juga melakukan pertemuan dengan Menteri Agama Suryadharma Ali untuk menyampaikan hal yang serupa berkaitan dengan ormas yang berbasis pada keagamaan.
Selain itu dalam pertemuan tersebut Menteri Agama juga berjanji akan lebih memperhatikan Ormas keagamaan sebagai bagian dalam menjaga kebinekaikaan dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
Untuk mensosialisasikan adanya forum keormasan, DPP LDII sendiri juga akan mengajak seluruh komponen Ormas untuk melakukan dialog guna mencari rumusan yang tepat guna konektivbitas ini.(*)
Ketua DPP LDII Ir Prasetyo Sunaryo mengaku usulan tersebut didasari dengan masih adanya ormas-ormas yang terkotak-kotak di daerah dan sering terjadi gesekan yang berujung pada anarkisme. Untuk itu, DPP LDII menilai alangkah baiknya ormas tersebut di diwadahi dalam forum Ormas sesuai dengan kegiatan yang mereka lakukan.
"Kalau yang melakukan kegiatan sosial bisa masuk dalam forum sosial, lingkungan dan seterusnya. Sehingga Kemendagri bisa melakukan pembinaan dan pemberdayaan mereka," kata Prasetyo seusai bertemu Mendagri Gamawan Fauzi di Jakarta, Jumat.
Presetyo menjelaskan pemberdayaan ormas dalam berbasis kegiatan yang dilakukan ini akan meningkatkan peran serta masyarakat dan ormas yang bersangkutan sehingga dapat meminimalisir gesekan yang sering terjadi.
"Ini sangat penting untuk mendorong keikutsertaan ormas dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat," katanya.
Saat ini, pemerintah tengah menyusun UU Keormasan, Prasetyo berharap jika Forum Keormasan tersebut dapat terbentuk setelah Undang-Undang disyahkan. "Ini sangat penting agar diantara ormas bisa saling tukar menukar pengalaman dalam pengabdian kepada masyarakat," ujarnya.
Disisi lain, LDII juga meminta pemerintah untuk memberikan aturan yang jelas mengenai hubungannya dengan seluruh Ormas sehingga pemerintah tidak lagi canggung dalam melakukan pembinaan. "Hubungan yang jelas antara pemerintah dan Ormas tersebut harus masuk dalam Undang-Undang yang tengah dibahas antara pemerintah dengan DPR saat ini," tegasnya.
Ketika menanggapi hal tersebut, Mendagri Gamawan Fauzi segera membentuk tim untuk melakukan pengkajian dan penklusteran terlebih dahulu kepada ormas yang ada Indonesia berdasarkan dengan kegiatan yang mereka lakukan di masyarakat.
"Apa yang akan dilakukan oleh Kemendagri, LDII siap untuk membantu proses tersebut, sehingga seluruh Ormas yang ada di Indonesia bisa terkoneksi satu sama lain yang pada akhir bisa meningkatkan pemberdayaan masyarakat," kata Prasetyo.
Sebelumnya LDII juga melakukan pertemuan dengan Menteri Agama Suryadharma Ali untuk menyampaikan hal yang serupa berkaitan dengan ormas yang berbasis pada keagamaan.
Selain itu dalam pertemuan tersebut Menteri Agama juga berjanji akan lebih memperhatikan Ormas keagamaan sebagai bagian dalam menjaga kebinekaikaan dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
Untuk mensosialisasikan adanya forum keormasan, DPP LDII sendiri juga akan mengajak seluruh komponen Ormas untuk melakukan dialog guna mencari rumusan yang tepat guna konektivbitas ini.(*)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2012MUI dan LDII ajak masyarakat perangi terorisme
Jakarta (ANTARA News) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) meminta masyarakat untuk tidak terprovokasi aksi terorisme yang mengatasnamakan agama dengan alasan membela kasus kalangan Muslim tertentu.
Ketua MUI Slamet Effendi Yusuf mengatakan apapun tindakan kekerasan yang memakan korban jiwa tidak dibenarkan atas nama agama dan negara. Oleh karena itu, MUI menilai apa yang dilakukan para pelaku teror dengan dalih membela kaum Muslim di negara lain sudah melanggar aturan yang ada.
Menurut Slamet Effendi, kedatangan Ketua PMI dalam menyelesaikan masalah tersebut sudah menunjuk kan etikad baik pemerintah indonesia dalam ikut serta mempererat kerukunan antarumat beragama di dunia termasuk di Myanmar.
"Kedatangan Pak Kalla di sana ini kita harapkan memberikan pembelajaran bagi warga Myanmar untuk menghargai pentingnya kerukunan antar umat beragama seperti di Indonesia," katanya.
Sementara itu ketua DPP LDII Bidang Da'wah Chriswanto Santoso mengajak seluruh ulama di Indonesia untuk memberikan pemahaman agama yang lebih medalam kepada para santrinya agar kasus terorisme dapat ditekan dan dihilangkan.
"Kami bersama MUI akan terus menjalin komunkasi kepada seluruh Ulama agar dapat terus mengedepankan dakwah yang tidak mengedepankan kekerasan," katanya.
Chriswanto menjelaskan meski demikian aparat keamanan diminta untuk kerja lebih ekstra dalam menditeksi segala bentuk gerakan terorisme secara dini agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban.
"Bayangkan jika yang menjadi korban itu menjadi tulang punggung keluarga mereka, apalagi mereka juga seorang muslim. Saya kira koordinasi antar-intelejen, dan peran serta masyarakat diperlukan guna mengatasi aksi ini," jelasnya.
Chriswanto menambahkan, bentuk komunikasi yang efektif bisa dilakukan aparat keamanan dalam mencegah terorisme adalah dengan aktif memberikan pengertian dan pertemuan dengan tokoh-tokoh agama serta tokoh adat, tanpa harus menakut-nakuti
Selasa, 04 September 2012
Legalitas
LDII MUI dan Wakapolri Hadir di Acara LDII

Dewan Pimpinaan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia mengadakan buka puasa bersama para tokoh di Wisma Besar DPP LDII, Jakarta, Senin (13/8/2012). Hadir dalam acara tersebut antara lain Ketua Umum LDII Abdullah Syam, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI Kh. Ma’ruf Amin, Wakapolri Komjen Nanan Sukarman, Dirjen Bimas Islam Prof Abdul Jamil dan Ketua MUI Pusat Prof KH Umar Shihab, dan Kabalitbang Kemenag Prof H Machasin.
Ketua MUI Pusat Ma’ruf Amin,Ketua LDII Abdullah Syam dan Wakapolri Nanan Soekarna saat menghadiri acara Buka Bersama di Kantor Pusat LDII, Jakarta, Senin (13/8/2012). Foto: VIVAnews/Ikhwan Yanuar
Ketua MUI Pusat Ma’ruf Amin, Ketua LDII Abdullah Syam dan Wakapolri Nanan Soekarna saat menghadiri acara Buka Bersama di Kantor Pusat LDII, Jakarta, Senin (13/8/2012). Acara tersebut merupakan acara ramah tamah yang digelar LDII dengan mengangkat tema “Membangun Moral Ukhuwah Islamiyah Meningkatkan Kinerja Bangsa.
Artikel lain yang berhubungan : MUI dan Wakapolri Hadir di Acara LDII
Dirjen Bimas Islam Ajak Semua Pihak Jalin Komunikasi
JAKARTA (Pos Kota) – Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Prof Dr Abdul Djamil MA, mengajak semua pihak untuk terus membangun dan menjalin komunikasi di ...
Sekretaris Dubes Singapura Hadiri Buka Puasa LDII
SEKRETARIS Duta Besar Republik Singapura, Zhou Suli berpendapat bahwa kerukunan dan kekompakan bangsa Indonesia perlu ditingkatkan. Pasalnya, kedua hal tersebut, menurut Zhou, merupakan syarat utama ...
LDII Hadiri Munas Hisab Rukyat Penentuan Awal Bulan Qomariyah
Memenuhi undangan dari Kepala Badan Litbang Kemenag RI, DPP LDII menghadiri Musyawarah Nasional Hisab Rukyat (Penentuan awal bulan Qomariyah). Munas ini dihadiri oleh Pakar, Instansi ...
Kunjungan Pengurus DPP LDII ke PB NU
Hubungan LDII dengan PB NU adalah terjalin sangat baik Tanggal 25 Januari 2011 DPP LDII mengadakan silaturrahim di Kantor PB NU dan langsung diterima oleh ...
LDII : Ajaran Islam Tidak Mengenal Radikalisme
Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) tegaskan, Islam yang dia anut bukanlah Islam yang radikal. “Kita harus tunjukan, Islam tidak radikal, Islam sejuk dan damai,” kata ...
Jumat, 18 November 2011
Sejarah Pondok Pesantren Wali Barokah
Pondok Pesantren Wali Barokah didirikan atas gagasan KH Nurhasan Al Ubaidah bin KH Abdul Aziz yang ingin menyiarkan agama Islam secara murni, mukhlis berpedoman kitab suci Al Qur’an dan Al Hadits dengan berlandaskan pada hak dasar kebebasan beragama yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945, maka diperjuangkanlah syiar agama Islam dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai kelanjutan perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, mutlak diperlukan partisipasi dan peran serta dari segenap lapisan masyarakat Indonesia. Memberikan peningkatan kehidupan beragama serta partisipasi pembangunan masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur baik material maupun spiritual dan berakhlakul karimah bagi seluruh rakyat Indonesia.
Secara historis pendirian Pondok Pesantren Wali Barokah ini diawali pada tahun 1950, saat KH Nurhasan Al Ubaidah bertabligh ke wilayah Kabupaten Kediri. Dakwahnya dilakukan di sebuah surau milik Mbah Damah yang pada waktu itu dikenal sebagai orang kaya di Desa Burengan, Kecamatan Pesantren, Kabupaten Kediri. Pada waktu itu diadakan pengajian Al Quran yang diikuti 25 (dua puluh lima) orang.
Berkat kesabaran dan kegigihannya, lambat laun Beliau membeli sebuah rumah di jalan Kenari No. 9 yang lokasinya berdekatan dengan surau Mbah Damah (sekarang dikenal sebagai Jalan Letjend. Suprapto gang I/21 Kediri) yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren di Desa Burengan, Kecamatan Pesantren, Kabupaten Kediri dan Desa Banjaran, Kecamatan Kota, Kabupaten Kediri yang akhirnya menjadi sebuah Pondok Pesantren besar bernama Pondok Pesantren Burengan-Banjaran Kediri.
Pada akhir tahun 1971 dikarenakan kondisi fisik KH Nurhasan Al Ubaidah mulai menurun dan sakit yang berkepanjangan, maka pengelolaan Pondok Burengan-Banjaran Kediri diserahkan kepada Yayasan Lembaga Karyawan Islam (Lemkari) di bawah pimpinan Drs Bachroni Hartanto.
Pada hari Kamis, tanggal 11 Maret 1982 Beliau wafat dan sebagai pengesahannya secara yuridis, pada tanggal 03 Mei 1983 para ahli waris yang diwakili oleh KH. Abdul Dhohir menyerahkan pengelolaan Pondok Pesantren Burengan-Banjaran Kediri kepada pendiri Lemkari Raden Eddy Masiadi, Drs Bachroni Hartanto, Soetojo Wirjo Atmodjo BA, Wijono BA, Drs. Nurhasjim yang dalam nota penyerahannya diwakili oleh Drs Bachroni Hartanto untuk dan atas nama Direktorium Pusat Lemkari, yang saat itu Beliau juga sebagai Ketua Pondok Pesantren Lemkari Burengan-Banjaran Kediri.
Dalam perkembangannya Pondok Pesantren Lemkari mengembangkan sarana dan prasarana diantaranya adalah gedung DMC, Menara Agung dan Gedung Wali Barokah yang dijadikan ruang utama kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya diadopsi sebagai nama Pondok Pesantren Walibarokah.
Artikel Ini Dicari Dengan Keyword:
■mbah ubaidah
■pendiri ponpes ringin agung
■sejarah ldii
■sejarah ldii di indonesia
■sejarah pondok burengan
■sejarah pondok pesantren ringin agung
■www pondok burengan com
Secara historis pendirian Pondok Pesantren Wali Barokah ini diawali pada tahun 1950, saat KH Nurhasan Al Ubaidah bertabligh ke wilayah Kabupaten Kediri. Dakwahnya dilakukan di sebuah surau milik Mbah Damah yang pada waktu itu dikenal sebagai orang kaya di Desa Burengan, Kecamatan Pesantren, Kabupaten Kediri. Pada waktu itu diadakan pengajian Al Quran yang diikuti 25 (dua puluh lima) orang.
Berkat kesabaran dan kegigihannya, lambat laun Beliau membeli sebuah rumah di jalan Kenari No. 9 yang lokasinya berdekatan dengan surau Mbah Damah (sekarang dikenal sebagai Jalan Letjend. Suprapto gang I/21 Kediri) yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren di Desa Burengan, Kecamatan Pesantren, Kabupaten Kediri dan Desa Banjaran, Kecamatan Kota, Kabupaten Kediri yang akhirnya menjadi sebuah Pondok Pesantren besar bernama Pondok Pesantren Burengan-Banjaran Kediri.
Pada akhir tahun 1971 dikarenakan kondisi fisik KH Nurhasan Al Ubaidah mulai menurun dan sakit yang berkepanjangan, maka pengelolaan Pondok Burengan-Banjaran Kediri diserahkan kepada Yayasan Lembaga Karyawan Islam (Lemkari) di bawah pimpinan Drs Bachroni Hartanto.
Pada hari Kamis, tanggal 11 Maret 1982 Beliau wafat dan sebagai pengesahannya secara yuridis, pada tanggal 03 Mei 1983 para ahli waris yang diwakili oleh KH. Abdul Dhohir menyerahkan pengelolaan Pondok Pesantren Burengan-Banjaran Kediri kepada pendiri Lemkari Raden Eddy Masiadi, Drs Bachroni Hartanto, Soetojo Wirjo Atmodjo BA, Wijono BA, Drs. Nurhasjim yang dalam nota penyerahannya diwakili oleh Drs Bachroni Hartanto untuk dan atas nama Direktorium Pusat Lemkari, yang saat itu Beliau juga sebagai Ketua Pondok Pesantren Lemkari Burengan-Banjaran Kediri.
Dalam perkembangannya Pondok Pesantren Lemkari mengembangkan sarana dan prasarana diantaranya adalah gedung DMC, Menara Agung dan Gedung Wali Barokah yang dijadikan ruang utama kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya diadopsi sebagai nama Pondok Pesantren Walibarokah.
Artikel Ini Dicari Dengan Keyword:
■mbah ubaidah
■pendiri ponpes ringin agung
■sejarah ldii
■sejarah ldii di indonesia
■sejarah pondok burengan
■sejarah pondok pesantren ringin agung
■www pondok burengan com
Langganan:
Postingan (Atom)




